...::: BRINGING ASTRONOMY TO THE PEOPLE :::...

    Home    About Me   Equipment     Aktivitas     Astrofotografi    Observasi    Downloads   Video    Gallery     Tamu   

Selasa, November 08, 2011

Fenomena Halo Pertanda Bencana?

.
Peristiwa Matahari dikelilingi bulatan yang terjadi beberapa waktu lalu, atau juga Bulan yang terlihat pada Senin malam (7/11) dalam astronomi dinamakan Halo. Ia adalah salah satu jenis fenomena optik di atmosfer seperti halnya juga kejadian pelangi. “Halo” berasal dari bahasa Yunani yang artinya Lingkaran Bulan, namun sekarang umumnya diartikan sebagai lingkaran cahaya yang mengelilingi Bulan atau Matahari. Lingkaran Halo merupakan salah satu fenomena optik seperti halnya pelangi yang disebabkan pembelokan cahaya oleh unsur atmosfer. Halo disebabkan adanya pembelokan cahaya oleh kristal es di lapisan awan tinggi yakni awan Cirrostratus. Awan ini merupakan kombinasi awan Cirrus dan Stratus. Awan Cirrostratus berada pada ketinggian lebih dari 6 km di atas permukaan air laut. Termasuk kelompok awan tinggi lainnya yaitu Cirrus, Cirrocumulus dan Cumulonimbus. Awan Cirrostratus memiliki sifat tipis, tersebar merata dan hampir transparan sehingga masih dapat ditembus cahaya bulan maupun matahari. Karena ketinggiannya (suhu dingin dibawah O° C) awan ini membentuk butiran lembut kristal es berbentuk tabung heksagonal (tabung segi enam) dengan ukuran berkisar antara 0,01 mm sampai 1 mm. Saat cahaya Matahari atau Bulan menerobos lapisan ini sebagian cahayanya akan mengalami pembiasan dan mengumpul membentuk pola lingkaran.
.

.

Kadang kita juga mendapatkan Halo dalam dua pola lingkaran yaitu lingkaran dalam dan lingkaran luar. Lingkaran ini masing-masing memiliki jari-jari sudut lingkaran sebesar 22° dan 46° disebabkan perbedaan ukuran dan arah sudut datang cahaya terhadap butiran kristal. Jadi saat kita melihat Halo jika jari-jarinya hanya selebar 1 jengkal tangan yang direntangkan maka itu termasuk Halo yang 22°. Nah malam ini yang terlihat itu kira2 yang mana ya..? Ya, yang paling sering memang 22° jadi ketika diukur pake tangan kira-kita 1 jengkal tangan dari pusat Bulan sampai tepinya.

.

Terjadinya fenomena Halo juga bisa menjadi indikator bahwa di atas atmosfer kita terdapat awan Cirrostratus. Seperti kita ketahui bahwa awan ini adalah awan pembawa hujan sehingga munculnya Halo bisa menjadi pertanda akan turun hujan. Memang bisa menjadi bahaya jika hujan yang turun disertai angin ribut dan banjir, namun sains menjawab, Halo bukan pertanda akan datangnya bencana atau malapetaka di Bumi ini.

.

Salam,

Mutoha Arkanuddin

 ■ 21 komentarBuka

__________________________________________________________________

Jumat, Oktober 21, 2011

Orionids Meteor Shower 2011


Malam Sabtu 21-22 Oktober 2011 dinihari ini sampai sebelum fajar kita dapat menyaksikan puncak Hujan Meteor Orionids (ORI - IMO27) walaupun kenampakan meteor ini sebenarnya dapat terlihat mulai tanggal 2 Oktober sampai 7 November nanti. Radiant atau pusat lesatan meteor ini berada di sisi bawah Rasi Orion Sang Pemburu atau orang Jawa menyebutnya "Lintang Waluku" tepatnya di Utara bintang merah Betelgeuse. Rasi ini tampak sangat dominan di langit Timur mulai lepas tengah malam. Orionids dapat menampakkan sampai 15-20 meteor setiap jam pada saat puncaknya. Kebanyakan dari meteor ini terlihat melesat dengan cepat di langit. Itu karena kecepatan meteor saat memasuki atmosfer Bumi mencapai 66 km/s. Meteor shower Orionids merupakan sisa debu Komet 1P/Halley yang pernah melintas dekat orbit Bumi kala itu. Waktu terbaik untuk pengamatan adalah menjelang tengah malam (sebaiknya mulai pukul 22 malam) hingga beberapa jam berikutnya. Sayangnya lepas jam 1 malam pertunjukan meteor ini akan terganggu dengan munculnya Dewi Malam sang Bulan di Langit Timur yang pada fase Bulan Tua sehingga terang cahayanya masih akan mengalahkan cahaya meteor yang redup. Namun buka berarti tanpa harapan, karena di bawah terang sang Dewi Malam pun saat melintas meteor yang cukup besar (fireball) akan menjadi pemandangan yang tak terlupakan. Tips Pengamatan Hujan Meteor:
- Berdoalah langit malam itu cerah
- Cari tempat yang gelap, lapang dan aman (bagus daerah pantai)
- Bawa beberapa atau banyak teman-teman anda agar suasana semarak
- Sebaiknya kenali sebelumnya nama rasi-rasi dan bintang yang nampak malam itu lewat software planetarium seperti Stellarium, Starrynight dsb.
- Bawa perlengkapan senter, jaket, alas tidur, makanan-minuman, mp3 player, lotion anti nyamuk dsb.
- Kamera astrofoto dan tripod bagi anda yang menyukai astrofotografi
- Tidak perlu teleskop maupun binokuler alias cukup mata telanjang tapi kalau ada peralatan tsb bisa juga dibawa.
- Boleh berteriak sekerasnya saat anda menyaksikan kelebatnya meteor! (asal jangan di telinga kawannya loh!)
- Jangan lupa juga hitung berapa cacah meteor yang dapat anda saksikan malam itu dengan melakukan counting selama waktu tertentu.

Selamat berburu Orionids...and make your wish!
 ■ 1 komentarBuka

__________________________________________________________________

Arsip Posting di JAC Astronomy Blog

Subscribe to RSS headline updates from:
Powered by FeedBurner

________________________________________________________________

Posting terakhir di Jogja Astro Club Yahoogroups

Subscribe to RSS headline updates from:
Powered by FeedBurner

____________________________________________________________________

Posting terakhir di Forum Diskusi RHI di Yahoogroups

____________________________________________________________________

Posting terakhir di Astronomi Indonesia Yahoogroups

Subscribe to RSS headline updates from:
Powered by FeedBurner

____________________________________________________________________

Posting terakhir di Langit Selatan dot Com

Subscribe to RSS headline updates from:
Powered by FeedBurner

 

©Jogja Astro Club (JAC) 2006 | Semua tulisan dalam artikel ini bebas disunting dengan menyebutkan sumbernya | Powered by Blogger