Home    About Me    Equipment    Aktivitas    Astrofotografi    Observasi    Downloads   Video    Gallery    Tamu   

Senin, 23 Oktober 2006

Rukyat Hilal Syawwal 1427

Tidak seperti yang dibayangkan, ternyata memang betul bahwa kegiatan merukyat hilal yaitu mencoba memburu bulan sabit yang masih amat sangat kecil sebagai pertanda awal bulan komariah atau hijriyah itu sangat sulit. Apalagi berdasarkan hasil hisab diketahui bahwa posisi bulan/hilal pertanda akhir Ramadhan tahun ini sangat rendah dan hampir menyentuh ufuk saat matahari terbenam menjadi suatu hal yang sangat mustahil untuk dapat terlihat. Begitu paling tidak bunyi komentar dari beberapa peserta rukyat hilal yang diselenggarakan oleh Badan Hisab Rukyat (BHR) Propinsi DIY di Pantai Parangkusumo Yogyakarta.

Saya sendiri yang baru sekitar tiga tahun ikut merukyat bersama Tim BHR Yogyakarta baik untuk penentuan awal bulan Ramadhan, Syawwal maupun Zulhijjah. Agak canggung juga ketika diserahi amanah merancang teknis pelaksanaan rukyat hilal kali ini. Beruntung selama mengurus JAC sudah dapat banyak pengalaman sehingga pola kegiatan rukyatpun saya rancang mirip-mirip pola kegiatan JAC. Hampir semua yang hadir merasakan ada nuansa lain terhadap kegiatan rukyat kali ini. Tidak seperti biasanya kegiatan rukyat kali ini nampak lebih serius dan banyak mengalami kemajuan. Tidak hanya bertambahnya jumlah alat-alat rukyat karena memang baru mendapat kiriman peralatan dari pusat namun pelaksanaan rukyat kali ini lebih berkualitas. Hal ini terlihat dari persiapan penyelenggara yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan termasuk mengadakan gladi resik dua hari sebelumnya. Pengalihan lokasi observasi dari lokasi lama di area terbuka di bibir pantai ke lokasi yang baru di sebuah bangunan eks tempat parkir juga merupakan terobosan baru. Bahkan di tempat ini juga dipasang 3 buah laptop, satu diantaranya digunakan untuk LCD proyektor yang menampilkan secara visual simulasi posisi bulan dan matahari secara real time dan dua lainnya digunakan untuk demo hisab dan CCD imaging menggunakan perangkat yang disediakan oleh Jogja Astro Club (JAC). Di luar arena telah disiapkan pula 3 unit Theodolit 2 diantaranya adalah digital, perangkat bingkai rukyat dan gawang rukyat. Pemasangan spanduk dan dua buah bendera juga semakin menambah meriah arena observasi. Tidak itu saja, liputan dari pers seperti TVRI, RBTV dan JogjaTV serta beberapa wartawan dari surat kabar lokal yang turut membaur bersama merupakan perkembangan yang juga cukup menarik. Walaupun sebenarnya mereka hanya kita undang via telepon. Tidak tanggung-tanggung kali ini anggota JAC yang turun langsung ikut rukyat ada 9 person padahal bisanya cuman 2 atau 3 orang. Yang lebih menyenangkan lagi arena rukyat menjadi arena shalat berjamaah usai berbuka bersama.
Unit CCD imaging bersiap merekam hilal seandainya terlihat
Keterlibatan JAC yang lebih intens dalam kegiatan rukyat hilal di Yogyakarta nampaknya sudah mulai terlihat hasilnya. Paling tidak peningkatan tersebut lebih banyak atas usul dan saran dari kelompok astronom amatir ini. Bahkan perangkat software dari mulai planetarium, Video imaging, program-program hisab serta tayangan foto-foto hilal hasil pengamatan hilal di seluruh dunia juga sempat ditampilkan melalui layar proyeksi termasuk pula penayangan foto-foto dokumentasi kegiatan rukyat yang telah lalu. Jadi secara teknis Tim BHR sebetulnya kali ini lebih siap untuk dapat merukyat hilal dengan sukses seandainya saja beberapa faktor tinggi hilal dan cuaca telah memenuhi syarat visibilitas hilal. Bahkan barangkali juga dapat merekamnya sebagai bukti pelaporan.

Walah jadi lupa, sebenarnya lewat tulisan ini tadinya saya mau menyampaikan laporan hasil observasi hilal sore tadi, yang intinya adalah bahwa hilal tidak dapat dirukyat, bukan karena tertutup oleh awan yang secara kebetulan memang langit barat penuh dengan awan, tapi karena memang secara perhitugan astronomis hilal masih berada pada ketinggian di bawah kriteria visibiltas/kenampakan. Jadi ya walaupun seandainya cuaca sangat cerah tanpa awan sedikitpun niscaya mustahil hilal dapat dirukyat mengingat ketinggiannya yang tidak sampai 1° saat matahari terbenam. Bayangkan saja, matahari yang cahayanya sangat menyilaukan mata saat siang hari, tapi saat hampir terbenam tampak redup bahkan nyaman dilihat lha kok cahaya hilal yang baru 1% yang terlihat sinarnya ada yang mengklaim dan mengaku bisa melihat ini khan hal yang mustahil..!! Kenapa saya katakan demikian, sebab HP dan telepon saya malam ini terus berdering.....bahkan memori di HP sudah penuh dg SMS yang menanyakan perkembangan rukyat.... E.. malah ada kabar dari Jawa Timur entah saudara, kawan atau bahkan saya tidak kenal tu menanyakan lagi hasil rukyat (padahal sudah diumumkan lewat radio dan TV) bahwa karena tidak ada laporan terlihatnya hilal di seluruh wilayah Indonesia, maka Ramadhan istikmal menjadi 30 hari akibatnya Lebaran ditetapkan pada Selasa, 24 Oktober 2006. Tapi katanya ada selebaran dari PWNU Jatim yang intinya mengajak untuk lebaran pada Senin, 23 Oktober 2006, alasannya karena ada laporan dari pengamat hilal di Madura yang mengaku dapat menyaksikan hilal dan sudah berani disumpah. jadi masyarakat menjadi bingung lagi..!! lebaran Senin apa Selasa? Wah-wah si pelapor ini kurang kerjaan juga, lalu "hilal" apa yang dia lihat?? Jam berapa dia lihat? bentuknya seperti apa? dimana? jadi sebelum disumpah seharusnya dikonfirmasi dulu..! jangan asal berani disumpah saja!! Kalau memang hasil konfirmasi terdapat kesalahan dan kejanggalan saksi itu bisa digugurkan sebab yang dia lihat adalah bukan sesuatu yang seharusnya dirukyat. Intinya dia bukan melihat hilal tapi sesuatu yang dia yakini sebagai hilal... lalu apa itu?? ya bermacam-macam, bisa itu adalah planet, sebab sore itu memang ada dua planet yang cukup terang di langit barat yaitu Jupiter dan Merkurius. Atau bisa saja lampu kapal, awan, atau lampu pesawat atau obyek-obyek lain yang dikira sebagai hilal. Haduh..! jadi lebaran kali ini memang betul-betul gayeng.... Yah, gak apa-apa lebaran boleh beda asal rukun-rukun saja khan... Selamat Idul Fitri.. maaf lahir batin...
Note: Entah mengapa kejadian-kejadian seperti ini semakin membuat obsesi saya yaitu "kriteria tunggal penanggalan Hijriyah di Indonesia" semakin menguat saja seperti saya coba tuangkan di link ini : http://rukyatulhilal.tripod.com Ya, walau masih embrio.....

4 komentar:

  1. Ridwan Baihaqi23/10/06 21:43

    Iya mas kami satu kampung di Malang sempat kewalahan harus bayar fitrah, nyiapin sedekahan, nyebar pengumuman dll.dll. Pokoknya jangan sampai terjadi lagi PENGUMUMAN IDUL FITRI KOK UDAH JAM 2 MALEM (DARI PWNU JATIM) yg intinya seperti yg mas ceritakan..!! Ini repotnya kalo masyarakat kita GOBLOK dlm falak!!

    BalasHapus
  2. Pak Toha, saya rasa masalah penanggalan tunggal itu bakalan terbentur masalah politis. Dan politik itu jauh beda dengan sains yang eksak. Sebenarnya, perbedaan dari hisab dan rukyat kan cuma masalah kriteria. Kriteria bulan baru-nya hisab kan asal tergelincir dari konjungsi matahari-bulan-bumi. Lha ini jelas-jelas besar sekali kemungkinan nGgak bisa dirukyatnya.

    Saya pikir rukyat itu juga mengikuti hisab, namun karena rukyat mengandalkan penglihatan maka ada kriteria-kriteria ketinggian bulan yang visible sesuai dengan hukum-hukum fisika. Bukankah kita bisa melihat jika ada pemantulan cahaya? Jadi ya gitu deh, kalo' mau ada penanggalan tunggal ya tinggal tentukan saja kriteria awal bulan baru.

    Kalo' kriterianya sama, dijamin rukyat (dilihat dengan mata) dan hisab (perhitungan) hasilnya akan sama.

    Selamat Idul Fitri 1427 H.

    Perbedaan tahun ini semoga menjadi pelajaran yang berarti

    BalasHapus
  3. warna tulisannya sama warna backgroundnya bikin pusing...susah ngebacanya.....atau warna tulisannya ganti dengan warna putih...jangan warna abu-abu

    BalasHapus
  4. pengamatan hilal itu khusus untuk puasa ramadan, untuk bulan yang lainnya dalam kalender hijriah cukup dilakukan hisab saja. tetapi titik nol perjalanan bulan mengelilingi bumi menurut ilmu agama bukan pada cunjungsi.demi jelasnya baca rotasi bulan.blogspot.com.bakrisyam

    BalasHapus