Home    About Me    Equipment    Aktivitas    Astrofotografi    Observasi    Downloads   Video    Gallery    Tamu   

Senin, 31 Juli 2006

Misteri Cahaya itu Terjawab

Misteri cahaya putih di langit Selatan Jogja terjawab



Petanyaan besar seputar fenomena cahaya putih yang melintas di atas Selatan Yogyakarta kini sudah terungkap. Seperti diberitakan oleh beberapa media koran maupun televisi bahwa pada Rabu, 27 Juli 2006 yang lalu sekitar pukul 19.30 WIB banyak masyarakat Yogyakarta, Klaten dan Boyolali menyaksikan sebuah kilatan cahaya yang melintas di atas langit. Menurut beberapa saksi mata di daerah Klaten dan Boyolali cahaya tersebut melintas dari arah Timur Laut menuju Barat Daya dan meninggalkan jejak asap seraya memancarkan cahaya cukup terang di langit. Peristiwa tersebut juga teramati dari daerah Pantai Parangtritis. Beberapa saksi mata di daerah ini mengatakan bahwa cahaya tersebut melintas tepat di atas kepala mereka pada hari dan jam yang sama. Selama beberapa hari misteri melintasnya cahaya putih tersebut sempat menimbulkan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Bahkan para pengungsi di Bantul banyak yang berjaga-jaga tidak tidur malam karena khawatir terjadi sesuatu pasca kenampakan benda asing tersebut.

Sebagian masyarakat menyebutnya secara salah kaprah sebagai peristiwa 'cleret tahun' atau lintang kemukus atau lintang alihan. Bahkan beberapa 'orangtua' yang dimintai pendapatnya menyatakan bahwa peristiwa tersebut berhubungan secara spiritual dengan aktivitas Merapi dan Laut Selatan. Namun hal ini akhirnya terjawab sebab dalam sebuah Bulletin Media Antariksa yang dapat diakses melalui internet, klub astronomi amatir Jogja Astro Club (JAC) lewat koordinatornya Mutoha menyatakan bahwa lintasan cahaya putih tersebut adalah fenomena meteor besar yang memasuki atmosfer yang disebut "fireball". Hal ini menghilangkan dugaan sebelumnya bahwa benda tersebut kemungkinan adalah roket atau satelit yang telah habis masa aktifnya. Melihat arah lintasannya, besar dugaan bahwa meteor ini merupakan bagian dari hujan meteor atau "meteor shower" Southern Delta Aquarids (SDA) yang pada sekitar tanggal tersebut sedang mencapai puncaknya tepatnya tanggal 28 Juli 2006. Hujan meteor SDA memiliki pusat Radiant di rasi Aquarius yang pada jam saat kenampakan meteor tersebut rasi ini sedang berada juga di arah Timur. Dengan melihat jejak lintasannya yang terputus, bisa dipastikan meteor ini telah habis saat sebelum menyentuh tanah.

Menurut perhitungan, kecepatan meteor saat memasuki atmosfer bumi dapat mencapai 40 km/detik sehingga saat bergesekan dengan udara dapat menimbulkan panas hingga 3000° Celcius. Panas ini mengakibatkan udara disekitarnya terionisasi sehingga terpendar menyala dan jejak asap merupakan peristiwa umum jika sebuah benda terbakar. Mengenai suara ledakan yang terdengar menurutnya adalah akibat gesekan dengan udara pada kecepatan tinggi sehingga menimbulkan fenomena suara yang disebut "sonic boom". Walaupun sebenarnya ledakan tersebut bersamaan dengan terbakarnya meteor namun karena kecepatan cahaya mendahului kecepatan suara akibatnya seolah suara ledakan terdengar menyusul. Sementara berdasarkan laporan dari beberapa di tempat yang berbeda dapat diperkirakan bahwa meteor yang berada pada ketinggian lebih dari 100 km di atas permukaan bumi. Ditambahkan, saat kejadian secara kebetulan JAC bersama beberapa anggotanya tengah mengadakan kegiatan stargazing atau observasi langit malam di Pantai Parangtritis setelah sore harinya juga diadakan kegiatan rukyat hilal untuk penentuan awal bulan Rajab, sehingga kenampakan meteor besar tersebut merupakan sebuah kesempatan yang sangat langka yang mungkin tidak akan terulang lagi.

Dalam keterangan mengomentari seputar peristiwa serupa yang pernah terjadi di Jakarta Dr. Moedji Raharto dari Observatorium Bosscha mengatakan bahwa meteor adalah benda padat alam dari antariksa yang terbakar
saat masuk ke atmosfer Bumi, melahirkan istilah bintang jatuh. Jika meteor tidak habis terbakar, sisanya yang jatuh ke Bumi disebut meteorit. Menurut Moedji, apa yang bisa disaksikan langsung itu sebenarnya berada sekitar 100 kilometer di atas permukaan Bumi. Ia menduga meteor sudah terbakar habis saat bergesekan dengan atmosfer Bumi.

Dugaan tersebut didukung oleh kenyataan bahwa hingga kini belum ada laporan tentang jatuhnya suatu benda asing, seperti yang disampaikan Drs Suratno, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), secara terpisah. Dr. Adi Sadewo Salatun, Deputi Kepala Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lapan, menambahkan, obyek yang masuk lapisan atmosfer bisa mencapai 8 kilometer per detik.

Gesekan dengan udara membuat benda itu terbakar pada suhu 2.000-3.000 derajat Celsius. "Panas juga membuat udara di sekitarnya terionisasi sehingga membentuk lintasan yang dari Bumi tampak seperti ekor meteor," papar Drs Hendro Setyanto, asisten Riset Observatorium Bosscha-Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menurut Dr Thomas Djamaluddin, peneliti antariksa Lapan, obyek yang jatuh itu-kalau ada-dapat dipastikan dari laporan masyarakat asalkan mereka mencatat waktu saat melihat bola api itu. Dari informasi masyarakat juga dapat dihitung orbit dan ditelusuri obyek apa yang jatuh. "Saya kini masih memantau lewat mailing list pengamat antariksa dunia," ujarnya.

BISA BUKAN METEOR


Djamaluddin menambahkan, memang ada kemungkinan lain bahwa bnda langit yang terang bisa berupa pecahan roket pendorong atau satelit yang telah habis masa operasinya. Obyek itu juga bisa menimbulkan ledakan ketika masuk ke atmosfer di ketinggian 120 kilometer karena bertumbukan dan bergesekan dengan lapisan udara.

Adi Sadewo mengingatkan, yang perlu diwaspadai justru jatuhnya sampah-sampah akibat aktivitas manusia di antariksa. Hingga tahun ini, menurut data dari Nomad Amerika Serikat (AS), terdapat sekitar 9.400 sampah plus debu antariksa yang bisa mengganggu penerbangan wahana antariksa. Misalnya, membentur jendela atau melubangi bagian panel sel surya.

Selain itu, sampah angkasa mengancam penduduk Bumi. Selongsong roket milik Rusia, misalnya, pernah jatuh di Palembang dan Gorontalo beberapa tahun lalu. Ancaman kejatuhan bekas satelit-baik yang beredar di orbit
rendah maupun tinggi- juga tak terelakkan karena usia satelit yang terbatas. Mir, wahana antariksa milik Rusia seberat 134 ton, juga pernah jatuh. Ketika sampai ke muka Bumi, beratnya diperkirakan masih 40 ton. Wahana yang memiliki sistem kendali itu akhirnya jatuh di Samudra Pasifik, meski sebelumnya sempat melintasi wilayah Indonesia.


Ancaman itu masih ditambah dengan risiko terpapar radiasi bahan bakar nuklir yang dipakai. "Satelit Cosmos milik Rusia yang berada di atas Kanada, misalnya, menggunakan generator nuklir," papar Adi. Namun, dengan
teknologi sebenarnya, ancaman bisa diminimalkan.Kemungkinan jatuhnya satelit Palapa, umpamanya, bisa
diantisipasi dengan menggeser satelit keluar dari cincin geostasioner setelah habis masa operasinya.

Jatuhnya sampah yang merupakan bagian bekas satelit atau roket terakhir terjadi 15 Desember 2004 lalu, yang teridentifikasi milik Rusia. Sedangkan bekas satelit AS diperkirakan jatuh 22 Desember 2004.

METEOR JARANG JATUH


Kejadian jatuhnya meteor sebenarnya sangat jarang, kemungkinannya beberapa tahun sekali di suatu wilayah dan tidak mudah terdeteksi. "Itu karena umumnya ukuran meteornya kecil, paling besar sebola tenis sehingga baru terlihat setelah masuk atmosfer sebagai bola api," urai Adi. Salah satu kejadian terbesar jatuhnya meteor adalah di Tunguska, Siberia, tahun 1908. Dampaknya telah menghanguskan areal hutan di daerah itu. Saat mendekati atmosfer, meteor tersebut memang terdeteksi berukuran cukup besar hingga beberapa kilometer persegi.

Menurut Hendro Setyanto, manusia biasanya memandang kemunculan meteor ini sebagai pertanda positif, tidak seperti komet yang dianggap negatif. "Orang Jawa menyebutnya sebagai ndaru," ujarnya. Di dunia sudah ada patroli antariksa untuk memantau obyek yang orbitnya dekat dengan Bumi. Tahun 1994, misalnya, satelit pengamat AS mendeteksi bola api di atas Pulau Banda. Namun, sampai kini belum ada informasi tentang kehadiran benda langit buatan tersebut di atas negeri ini.


(jacnews)



Hoax : Mars on August


Di beberapa milis baik milis Indonesia maupun asing dan bahkan beberapa blog yang saya kunjungi banyak dijumpai tulisan berikut....:>>"..... Planet Mars akan menjadi bintang yang paling terang mulai Agustus. Besarnyaakan terlihat sebesar bulan purnama. Puncak terangnya planet ini adalahtanggal 27 Agustus ketika Mars mendekat dengan jarak sekitar 34.65M mil daribumi. Pastikan anda memandang ke langit pada 27 Agustus jam 00:30 pagi (Sabtu setelah tengah malam ). Akan terlihat seolah bumi memiliki 2bulan.Saat berikutnya Mars akan begitu dekat dengan bumi pada tahun 2287.Sebarkan kabar ini kepada kawan-kawan anda karena TAK ADA SEORANGPUN DARIYANG HIDUP SAAT INI akan menyaksikannya lagi........."_-)>>


MOHON JANGAN DIPERCAYA/DISEBARKAN ....
SEBAB BERITA ITU SAMA SEKALI TIDAK BENAR..!
IT'S JUST ONLY HOAX......


Berita tsb adalah berita untuk tahun 2003 yl. pun banyak yg tidak pas...(terlalu berlebihan)..!Ya.. saat itu memang Obs. Bosscha dan Planetarium Jakarta cukup kewalahan melayani masyarakat akibat pemberitaan tsb.Pada waktu itu Mars sedang beroposisi (tepat membelakangi matahari) sehingga menyebabkan Mars 'purnama' dan secara kebetulan saat itu pula Mars berada pada jarak terdekat dg bumi selama berputar di lintasannya yang berbentuk elips sehingga Mars terlihat lebih besar. Walau demikian, lebar muka Mars terlihat hanya 25 detikbusur (0,007°) bandingkan dengan bulan yang sekitar 30 menitbusur (0,5°) sehingga walau dilihat menggunakan teleskopun masih hanya bulatan kecil.Setiap lk. 2 tahun sekali Mars akan mengalami oposisi kembali. Dan untuk tahun 2006 ini tidak ada jadwal oposisi Mars..! Karena setelah Agustus 2003 dan November 2005 yl. oposisi Mars akan terjadi nanti pada Desember 2007, Januari 2010, Maret 2012 dst....begitu menurut kalender astronomi. Dan walau belum beroposisi, kini kita masih bisa melihat Mars saat sore hari selepas sunset di arah Barat. Saat oposisi adalah saat paling baik untuk mengamati planet inikarena seluruh muka yg menghadap ke bumi mendapatkan cahaya. Demikian moga2 dapat meralat pemberitaan ttg Mars di bulan Agustus ini.Berita tsb. sempat banyak ditanyakan saat kegiatan JACAstronomi Roadshow yang lalu... Walah2...

Jumat, 28 Juli 2006

Event: Aquarid Shower

Jika kebetulan langit cerah..... Jangan lewatkan ...

Tonton Hujan Meteor (Meteor Shower) Southern Delta Aquarids (SDA) malam ini (28/07). Pusat atau radiantnya berada di Sekitar Rasi Aquarius. Rasi ini terbit si arah Timur pada sekitar 20.00 WIB dan akan mencapai Zenith pada pukul 02.00 WIB dinihari (waktu terbaik untuk pengamatan). Meteor Shower SDA masuk dalam katalog IMO-15 dengan rata2 kecepatan meteor 41 km/detik dengan ZHR sekitar 20 meteor per jam. SDA shower ini sebenarnya mulai diamati pada 12 Juli s.d. 19 Agustus yad. namun puncaknya adalah pada tanggal 28-29 July. Untuk mengenali Rasi Aquarius asal radiant meteor shower ini dapat dilakukan dengan panduan beberapa bintang terang seperti Altair dan Fomalhaut dengan panduan peta bintang ini :
Link bagus untuk pecinta observasi meteor adalah Internasional Meteor Organiozation (IMO).

Yang tidak sempat mengamati malam ini, maka malam Minggu pun masih punya kesempatan...

Happy skygazing....

Kamis, 27 Juli 2006

News: Fireball?? di atas Langit Jogja


Sebuah fenomena yang diyakini sebagai sebuah meteor besar memasuki atmosfer bumi atau yang sering disebut dengan "fireball" terjadi di atas Langit Selatan Yogyakarta atau tepatnya di atas Pantai Parangtritis pada Rabu, 26 Juli 2006 malam. Kejadian itu berlangsung begitu cepat tepat pada pukul 19.31 WIB. Saat itu secara kebetulan beberapa anggota Jogja Astro Club (JAC) sedang mengadakan acara stargazing (observasi langit malam) setelah pada sorenya diadakan kegiatan rukyat hilal di Parangkusumo. Saat meteor melintas tepat di arah zenith (atas kepala) memancarkan cahaya yang amat terang sampai area gelap yang kami tempati mendadak terang benderang dan beberapa saat disusul dengan suara ledakan sebanyak 2 kali. Meteor melintas dari arah Timur menuju Barat sambil meninggalkan jejak asap berwarna menyala kebiruan yang lama-kelamaan hilang sekitar 2 menit.Sungguh ini merupakan fenomena menakjubkan yang baru pertama kami lihat. Beruntung beberapa anggota JAC yang mengikuti kegiatan dapa turut melihatnya walaupun tidak sempat mengambil gambar karena kejadiannya begitu cepat.

Di perkampungan, wargapun nampak banyak yang cemas setelah melihat fenomena tsb. Maklum, mereka masih trauma betul dengan bencana gempa bumi dan tsunami yang baru saja mereka alami. Namun kita berusaha menenangkan mereka dengan menyampaikan informasi mengenai fenomena tsb. dalam sudut pandang astronomi. Dan bersyukur ini dapat mengurangi kecemasan para warga di Parangtritis yang kebetulan turut melihat langsung peristiwa tsb. Payahnya, kamipun jadi turut khawatir terjadi sesuatu karena berada di Pantai. Maka acara stargazing disudahi pada pukul 20.00 WIB dan kamipun langsung pulang.

Melintasnya meteor malam itu bahkan dapat terlihat oleh seorang kawan yang berjarak lk. 40 km lewat sms yg saya terima. Saya belum menyimpulkan kejadian tsb. apa benar2 fenomena meteor atau benda asing yang lain. Kita tunggu beritanya.

Senin, 17 Juli 2006

Astronomy Roadshow 1

Bringing Astronomy to the People
Alternatif Hiburan - Obat Trauma Pasca Gempa
Boulevard UGM - 16 Juli 2006 @ 20:00 - 24:00 WIB
"Wuih... serem... ", kata Adi, mahasiswa UGM semester 3, salah seorang pengunjung kegiatan JAC Astronomy Roadshow ketika mengintip lewat 'eyepiece' yang terpasang di Novalux Telescope 114/900 saat melihat permukaan bulan tua yang baru saja terbit di arah Timur. Adi merupakan salah seorang diantara pengunjung yang berjubel antri untuk melihat langsung permukaan bulan lewat teleskop. Sementara di stand teleskop yang lain yang diarahkan ke Planet Jupiter beberapa pengunjung juga tampak terheran-heran ketika menyaksikan sebuah titik cahaya yang terlihat langsung oleh mata tapi ketika dilihat melalui teleskop Dauer 8" f/5 tampak besar dan terlihat permukaannya bahkan 4 titik2 kecil yang berada di sampingnya yang dikenal sebagai 'Galilean Moon' atau 4 bulan besar Planet Jupiter juga terlihat dengan jelas. Di stand Teleskop Mercury 4" sengaja diarahkan untuk mengamati beberapa bintang ganda seperti Alpha Centauri serta Deep Sky Object yang nampak dengan teleskop malam itu pun berkumpul para pengunjung yang penasaran pingin segera mendapat kesempatan mengintip. 

Itulah kira2 gambaran suasana kegiatan JAC Astronomy RoadShow 1 yang diselenggarakan oleh Jogja Astro Club (JAC) dengan mengambil tempat di Boulevard UGM Sabtu, 16 Juli 2006 yang merupakan kegiatan perdana pasca gempa menguncang kota Jogja Mei lalu. Kegiatan berlangsung mulai jam 20.00 WIB sampai 24.00 WIB. Dari namanya, kegiatan roadshow adalah kegiatan pertunjukan jalanan sehingga diharapkan akan menyerap banyak pengunjung. Kegiatan ini tidak direncanakan sebelumnya sebab hanya merupakan inisiatif beberapa pengurus JAC yang pingin andil dalam program menyembuhan mental trauma pasca gempa, siapa tahu dengan mengajak masyarakat untuk ngintip2, ketegangan mereka bisa berkurang.. atau paling tidak juga sesuai dengan misi JAC untuk memasyarakatkan astronomi dengan menyuguhkan pertunjukan astronomi kepada mereka.. Bringing Astronomy to the People... yah kayak temanya 'Astronomy Day' itu...
Persiapan memang sempat mundur dari waktu yang direncanakan yaitu jam 19.00 disebabkan beberapa kendala seperti teknis transportasi serta perubahan lokasi. Akhirnya walaupun agak repot saat membawa peralatan menuju lokasi, stand telah siap tepat pukul 20.15 WIB. Sebuah Tenda Doom 3x3 telah terpasang, meja, juga 3 unit teleskop telah diset-up oleh pemandunya masing2 serta laptop untuk astrovideo dan peragaan program Planetarium juga telah disiapkan. Di tempat kegiatan juga kebetulan sedang digelar acara Tabligh Akbar dan pesta Pernikahan sehingga lokasi cukup padat dan polusi cahaya kurang memenuhi syarat untuk kegiatan observasi, namun apa boleh buat... namanya juga roadshow apalagi awan masih cukup mengganggu.
Dan saat langit perlahan mulai cerah, nampak pertama kali adalah sinar dari Planet Jupiter yang segera dibidik oleh operator di teleskop Dauer dan segera dikerumuni para pengunjung yang sudah menunggu antri mengintip langit. Malam itu hadir juga beberapa anggota dan pengurus "Hidden Leaf" sebuah komunitas sains yang dipelopori oleh Mas Arkhadi Pustaka (Mas Arkha) yang langsung disuguhi 'peta bintang' atau planisphere. Tanpa menunggu komando materi teknik membaca peta bintangpun berlangsung walau secara singkat. Dengan planisphere dan senter merahnya Mas Arkha pun beranting menularkan ilmu singkat ini kepada yang lain. Target malam itu adalah rasi2 dan bintang2 yang cukup dominan terlihat seperti Rasi Centaurus dengan bintangnya Rigel/Alpha Centauri, Rasi Scorpius dengan bintang terangnya Antares, Rasi Lyra dengan bintangnya Vega, Rasi Bootes dengan bintang Acturus serta Rasi Aquila dengan bintangnya Altair. Di stand ini panitia juga menyediakan 7 buah binokuler untuk membantu pengunjung mengamati langit malam serta dipandu cara menggunakannya.
Mas Arkha dan anggota HiddenLeafnya mulai tertarik astronomi? (semoga)

Laptop yang dipasangpun tidak luput dari kerumunan pengunjung yang berkeinginan melihat program peta bintang via komputer yang dikemas dalam sebuah software yang interaktif dan menarik serta dapat menampilkan peta langit sangat realistik yaitu Starrynight Pro Versi 5.8.2 yang merupakan hadiah dari seorang simpatisan JAC. Lewat program ini posisi benda2 langit dapat ditera secara presisi, realtime dan dapat dizoom hingga ke permukaannya sehingga sangat membantu saat observasi malam seperti ini. Program ini juga yang memberi informasi nama2 4 buah bulan Jupiter yang terlihat lewat teleskop.

Sesi selanjutnya adalah astrovideo yaitu perekaman video terhadap objek langit seperti planet, bulan, bintang ganda maupun deep sky object misalnya galaksi, nebula, cluster dsb. Alat yang digunakan adalah sebuah teleskop yang dilengkapi dengan kamera elektronik yang disebut CCD (dapat dibuat dari modifikasi webcam) yang terhubung ke laptop untuk monitor sekaligus merekamnya. Oleh karena itu telknik ini sering disebut dengan CCD Imaging. Namun malam itu kegiatan astrovideo hanya dikhususkan untuk merekam Planet Jupiter yang secara jelas terlihat detil permukaannya dan terlihat lebih cepat lajunya di layar komputer daripada ketika dilihat langsung karena pembesaran sebesar 700x. Para pengunjung banyak yang mengajukan pertanyaan seputar teknik ini. Mereka hampir tidak percaya dapat menyaksikan secara langsung permukaan planet yang berjarak 5x lebih jarak bumi-matahari ini yang kalau dilihat dengan mata hanya sebuah titik kecil di langit, demikian ungkapan yang terdengar dari mereka. Hasil perekaman gambar ini nantinya aka diproses lebih lanjut untuk menghasilkan gambar yang berkualitas dengan menggunakan teknik stacking atau penumpukan gambar menggunakan software komputer. Ada banyak program dibuat untuk itu misalnya K3CCDTOOLS, REGISTAX, ASTROVIDEO dsb. Begitu keterangan singkat yang diberikan pemandu kepada para pengunjung dan mekapun manggut-manggut tanda bingung. Dan hasil rekaman video PlanetJupiter setelah mengalami proses stacking menghasilkan gambar seperti berikut.
Gambar Planet Jupiter sebelum dan sesudah diproses menggunakan program penumpuk gambar/stacking.

Sebelum acara penutupan yang direncanakan pukul 24:00 WIB sempat terjadi dialog/debat panjang dengan salah seorang pengunjung mengenai konsep geosentris dan heliosentris. Nampaknya pengunjung yang satu ini betul2 telah menjadi korban buku karangan Ahmad Sabik yang berjudul ... Matahari Mengelilingi Bumi Sebuah Kepastian Al Quran dan As-Sunah.... Jelas kalau diteruskan tak akan selesai sampai pagi.. tapi saya bersyukur dapat memberikan wawasan sains kepada yang bersangkutan serta banyak pertanyaan2 saya yang tidak dapat dijawab olehnya. Tapi dasar sudah kolot ya tetep ngeyel... Inilah akhir dari kegiatan memasyarakatkan astronomi yang ditutup dengan ke'ngeyelan' pengunjung yang tetep ngotot mempertahankan konsep geosentrisnya tanpa melihat fakta2 ilmiah yang ada. Kesimpulan saya... "Astronomi masih menjadi sesuatu yang sangat awam di negeri ini..." Entahlah... siapa lagi yang mau membantu kami turut memasyarakatkan astronomi.... di Indonesia... tercinta... Doakan dan dukunglah kami semoga dapat melakukan kegiatan Roadshow Astronomi ke 2.. ke 3.. ke 4.. dan seterusnya. "JAC.. Bringing Astronomy to the People...."
Yang jelas setelah itu berkemas... makan malam.. lalu pulang... tidur pulas...
Sampai ketemu di Roadshow berikutnya...
Notes:
Geosentris : konsep bumi sebagai pusat tata surya
Heliosentris : fakta bahwa matahari adalah pusat tata surya