Home    About Me    Equipment    Aktivitas    Astrofotografi    Observasi    Downloads   Video    Gallery    Tamu   

Selasa, 17 Juli 2007

Bulan Pernah Terbelah?

Benarkah ini adalah sisa terbelahnya bulan pada masa lalu?  [sumber]

Pertanyaan itu datang dari beberapa sejawat yang 'katanya' pernah membaca sebuah artikel di Majalah Hidayatullah Edisi Januari 2007 lalu juga mendapatkan selebaran via email dan sempat beredar dari milis ke milis (saya juga sempat mendapatkannya). Beberapa blog sebenarnya sudah mengangkat juga masalah ini tapi saya merasa belum memperoleh jawaban yang memuaskan. Ini beberapa link itu :


Sampai akhirnya saya temukan jawaban yang cukup ilmiah dari Anggota Pakar JAC sdr. Marufin Sudibyo dan Bapak T. Djamaluddin (Peneliti Astronomi Antariksa LAPAN Bandung) lewat personal webnya.

Mukjizat tak Harus Dijelaskan
Majalah internal LAPAN, FOKKAL Volume 7 Nomor 1 2007, memuat tulisan “Benarkah Bulan Pernah Terbelah?” yang diambil dari bebagai sumber. Saya kira sumber utama (termasuk gambar) dari internet, antara lain http://sukmayana.blog.com/Moon/ dan http://www.aulia-e-hind.com/Prophet.htm. Sebelumnya di beberapa milis yang saya ikuti, hal serupa pernah di-forward dan pernah saya tanggapi. Kini muncul di majalah internal LAPAN. Saya khawatir, bagi orang luar yang sempat membacanya, spekulasi bahwa bulan pernah terbelah secara fisik dianggap mendapat pembenaran karena dimuat di media terbitan LAPAN, lembaga yang terkait dengan riset antariksa.
 
Karenanya saya perlu mengklarifikasinya. Interpretasi gambar permukaan bulan yang menunjukkan kanal panjang sebagai bukti bahwa bulan pernah terbelah dan kabar seolah-olah ada pakar antariksa dari Amerika Serikat yang pernah ke bulan membuktikannya, bukanlah interpertasi dan informasi yang benar. Lihatlah sumber gambar asli dan penjelasnnya di http://apod.nasa.gov/apod/ap021029.html. Tidak ada penjelasan bahwa itu bukti bulan telah terbelah dalam foto tersebut. Gambar itu hanyalah salah satu kanal sempit (disebut rille) yang dinamakan Ariadaeus Rille. Kanal seperti itu banyak terdapat di permukaan bulan dan bentuknya bermacam-macam, ada yang hampir lurus (seperti Ariadaeus Rille tersebut), ada juga yang berkelok-kelok (seperti Hadle Rille). Panjangnya bisa ratusan km, lebarnya beberapa kilometer, dan dalamnya bisa ratusan meter. Pembentukannya dari proses aktivitas geologis permukaan bulan, bukan karena celah bekas bulan terbelah. Jadi, anggapan bahwa kanal itu adalah bukti bahwa bulan pernah terbelah sangat mengada-ada. Benarkah bulan pernah terbelah? Sejauh ini tidak ada bukti ilmiah yang mendukungnya.
 
Mekanisme fisisnya pun sulit dijelaskan, karena kalau pun benda langit bisa saja terbelah atau pecah akibat efek pasang surut planet atau bintang induknya, tetapi tidak mungkin bersatu kembali. Ahli matematika Perancis Edouard Roche menyatakan ada suatu jarak minimum dari planet atau bintang induk yang bila dilampaui akan menyebabkan benda yang mengorbitnya akan pecah. Batas minimum itu dikenal sebagai Limit Roche yang tergantung ukuran dan kekuatan benda langit menahan gaya gravitasi planet. Bulan yang kelihatan kokoh pun akan hancur berantakan bila (karena suatu sebab) melewati Limit Roche-nya, masuk dalam orbit yang jaraknya kurang dari 18.000 km dari bumi. Saat ini (termasuk pada zaman Nabi) bulan masih berada pada jarak yang aman 384.000 km.

Saya mempercayai adaya mukjizat Rasulullah yang menunjukkan bahwa bulan terbelah yang dikaitkan dengan asbabun nuzul QS 54:1-2. Tetapi itu tidak harus berarti secara fisik bulan terbelah. Bisa jadi, itu hanya fenomena di atmosfer bumi yang menyebabkan bulan tampak terbelah. Mukjizat memang tidak harus difahami dengan ilmu pengetahuan atau harus dicocokkan dengan logika ilmu pengetahuan. Mukjizat hanya cara menunjukkan kekuasaan Allah yang diberikan kepada Rasul-Nya.

Kita harus menyakini adanya, tetapi tidak harus menalar bagaimana hal itu bisa terjadi. Mu’jizat Nabi Musa AS membelah laut Merah, kita yakini benar terjadi karena dibuktikan dalam kisah Nabi Musa dapat menyeberanginya, tetapi kita tidak perlu mengkaji bagaimana mekanisme fisisnya. Mu’jizat Nabi Muhammad SAW membelah bulan juga kita yakini terjadi, tanpa perlu mengkaji proses fisisnya, apalagi terlalu jauh berspekulasi menjelaskan dengan informasi ilmu pengetahuan yang keliru.

Salam,
T. Djamaluddin
(Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung)


Sementara Marufin Sudibyo yang eks. Teknik Nuklir UGM dan lama menggeluti dunia astronomi amatir juga menjadi anggota Pakar di Jogja Astro Club menyampaikan dari sudut pandang yang berbeda. Berikut penjelasannya:


Shaqq Al Qomar dalam perspektif Astronomi 


 Ilustrasi terbelahnya bulan (Shaqq Al Qamar) 

Mukjizat terbelahnya Bulan (shaqq al-Qamar) pernah saya baca sekilas di satu buku kecil pas dulu kluyuran di Bandung. Namun bukunya ringkas sekali, meski lengkap dengan hadits2-nya tapi tidak jelas bagaimana status hadits itu dalam sanad dan matan-nya. Ringkasnya, ketika penduduk Makkah meminta agar Nabi SAW membelah Bulan, maka Nabi SAW dan penduduk Makkah naik ke Jabal Qubais (gunung batu di Timur Makkah). kemudian Nabi SAW mengacungkan telunjuknya ke Bulan, dan terbelah-lah sang Bulan. Separuh belahan Bulan bergerak ke kiri sementara separuhnya lagi bergerak kekanan, lalu bergerak lagi dan menyatu di tempat semula. peristiwa ini membuat penduduk demikian takjub meski sebagian dari mereka tetap saja dalam kekafirannya.

Fenomena ini teramati juga oleh sejumlah kabilah dagang yang sedang dalam perjalanan ke Makkah, pun teramati di Malabar (India barat daya) oleh raja Chakrawati Farmas dan disebutnya sebagai "kabar dari langit" tentang tanda2 kenabian yang telah turun di Arab. Kini di lereng barat Jabal Qubais telah didirikan sebuah mesjid kecil untuk mengenang peristiwa ini.

Namun bagaimana 'nasib' mesjid kecil ini pasca perluasan istana Kerajaan Saudi di Makkah yang juga berlokasi di Jabal Qubais, saya belum tahu. (Catatan : Jabal Qubais menurut cerita orang Arab dalah gunung tertua di Bumi.) Ini bukan sekedar dongeng.

Tanah Arabia bagian Barat tempat kota Makkah berdiri adalah bagian dari Arabian Nubian Shield yang usianya sangat tua, dimana batuan metamorfikofiolit-nya terbentuk 870 juta tahun silam. Sementara mayoritas pegunungan di Bumi - kecuali Appalachia -umurnya kurang dari 300 juta tahun, yang terbentuk kala lempeng2 tektonik mulai eksis bersamaan dengan pembelahan superkontinen Pangea.

Meski 50 km di utara Jabal Qubais terdapat "ujung" zona kelurusan Makkah-Madinah-Nufud yang menjadi tempat berdirinya vulkan rekahan Harrah Rahat nan gigantik dengan endapan lava alkali basaltiknya dan lahir 10 jutatahun silam, namun aliran lavanya tidaklah menjangkauwilayah Jeddah-Makkah-Thaif. Ini ditunjukkan oleh batuan dasar Makkah yang berupa batuan beku diorit, dan kemungkinan Jabal Qubais pun tersusun oleh diorit). Maaf ngelantur.. kembali ke laptop.  

Estimasi Waktu dan Daya Pisah Mata
 
Mari mengestimasi dulu waktu terjadinya shaqq al-Qamar ini. Saat itu Nabi SAW belum berhijrah, maka shaqqal-Qamar terjadi beberapa waktu (bulan/tahun ?) sebelum Oktober 621 CE. Saat shaqq al-Qamar terjadi Nabi SAW dan penduduk Makkah berdiri di lereng Jabal Qubais yang menghadap ke Ka'bah, yakni lereng Barat, maka kemungkinan besar pandangan pun terarah ke Langit Barat sehingga azimuth Bulan saat itu berada dalam rentang 180° - 360°.
 
Shaqq al-Qamar terjadi diwaktu malam, sebelum mayoritas penduduk Makkah tertidur namun selepas shalat Isya'. Awal Isya' di Makkah dalam setahun Julian berkisar antara pukul 19.00 - 20.30 Waktu Makkah. Maka dapat saja kita asumsikan shaqq al-Qamar terjadi jam 21.00 waktu setepat. Shaqq al-Qamar juga disaksikan di Malabar, yang beda waktu-nya 2,5 jam dibanding Makkah (Makkah = GMT+3, Malabar = GMT+5,5) maka di Malabar pada jam 23.30 waktu setempat tentunya Bulan pun belum terbenam.
 
Karena Raja Chakrawati beranggapan shaqq al-Qamar adalah kabar dari langit tentang kenabian yang telah turun di Arab, mari asumsikan "tradisi" astronomi zaman itu (mengambil analogi 'bintang' Betlehem yang menuntun orang2 Majusi ke tanah Palestina) masih berlaku, sehingga Bulan berada di arah Arabia jika dilihat dari Malabar, alias azimuth Bulan sejajar dengan busur Malabar-Makkah. Maka, menggunakan titik acuan kota Bhuj (23°17' LU - 69°40' BT) di wilayah Malabar/pantai barat India, bisa diestimasikan azimuth Bulan saat itu di sekitar 270°, atau persis diarah Barat setempat.
 
Menggunakan segala asumsi tadi, pemodelan2 sangat kasar lewat software MoonCalc v6.0 untuk Bhuj menunjukkan waktu terjadinya shaqq al-Qamar dapat dikerucutkan disekitar bulan Mei-Juni (tahunnya tidak diketahui, yang jelas pada range 609 - 621 CE), mengingat hanya pada saat2 itu Matahari (demikian juga Bulan) memiliki azimuth disekitar 270°.
 
Untuk penanggalan qamariyah-nya, waktu mengerucut pada tanggal 5 - 8 ketika Bulan berada di kuartir pertamanya dengan fase setengah lingkaran, karena hanya pada rentang tanggal itu Bulan masih berada di langit Barat serta masih cukup tinggi untuk Makkah dan seluruh Semenanjung Arabia (sekitar 30°-40°), namun sudah rendah untuk Bhuj (sekitar 10°-15°). 
 
Sekali lagi, ini hanya rekonstruksi teramat kasar. Kemampuan alat optik untuk melihat dua buah benda berjarak sangat jauh tetap terpisah bergantung pada Kriteria Rayleigh yang memiliki bentuk matematis berikut : alfa = (1,22 x lambda)/d Dengan alfa = dayapisah alat optik (radian), lambda = panjang gelombang cahaya yang digunakan (meter) dan d= diameter lensa/cermin utama alat optik (meter). Untuk mata (d = 5 mm, sensitif pada lambda = 6.000Angstrom), alfa = 0,15 miliradian (0,5 menit busur). Sultan (Sultan, 2003) menyebut daya pisah ini berlaku di atmosfer dalam kondisi pencahayaan yang baik. Untuk amannya, lipatduakan saja nilai itu menjadi 0,3 miliradian (1'). Dengan jarak surface-to-surface Bumi-Bulan bervariasi dari 348.300 km (perigee) hingga 398.600 km (apogee), maka alfa =0,3 miliradian berkorelasi dengan benda sebesar 104 km (saat perigee) - 120 km (saat apogee) di permukaan Bulan. 
 
Artinya, hanya benda2 bergaris tengah melebihi 120 km saja yang bisa terlihat oleh mata manusia (makac erita tentang Tembok Besar China nampak jelas dari Bulan dengan mata telanjang itu hanya mitos). Sebagai pembanding, instrumen WFPC-2 (Wide Field Planetary Camera-2) di Hubble Space Telescope yang super sensitif pada cahaya Ultraviolet dekat 'hanya' bisa melihat benda sebesar 60 meter di permukaan Bulan. Dengan memperhitungkan batas daya pisah mata manusia ini maka ada beberapa kemungkinan fenomena yang jika dilihat dari Bumi mengesankan shaqq al-Qamar : 
 
1. Bulan Benar2 Terbelah secara Fisik.
 
Jika Bulan benar-benar terbelah secara fisik maka jelas ada bekas patahannya sehingga bulan - yang saat itu kemungkinan berfase setengah lingkaran - benar-benar terbelah, bidang pembelahan itu kemungkinan besar sejajar dengan ekuator maupun bujur nol-nya. 
 
Belahan Utara dan Selatan Bulan (atau Barat dan Timur, jika bidang pembelahannya sejajar bujur nol) akan terpisah sejenak hingga berjarak minimal 120 km, untuk kemudian menyatu kembali. Jika ini terjadi, tentu bidang pemisahan itu masih ada jejak2nya yakni sebagai patahan panjang yang membentang sejajar ekuator Bulan maupun bujur nol. Jika suatu blok batuan mendadak terpatahkan (apalagi terpisah) untuk kemudian merekat kembali, dibutuhkan 'lem' teramat kuat agar patahan itu tidak bergeser lagi.

Secara geologis 'lem' itu adalah magma yang terekstrusi keluar lewat erupsi rekahan, tentunya dengan volume sangat gigantik untuk kemudian membeku dan mengikat kedua sisi yang terpatahkan tadi. Dan karena batuan setempat mengalami kontak dengan magma Bulan, tentu terjadi proses metamorfosa kontak yang menghasilkan batuan metamorf kontak nan khas. Sejauh ini - merujuk NASA - vulkanisme Bulan terakhir kali terjadi jutaan tahun silam dan tak ada yang berumur Holosen (kurang dari 10.000 tahun), apalagi Resen (kurang dari 1.000 tahun). 
 
Citra2 permukaanBulan juga tidak menunjukkan jejak patahan sangat panjang yang sejajar ekuator. Demikian pula, citra2 Bulan pun tidak menunjukkan adanya sisa2 erupsi rekahan memanjang yang sejajar ekuator maupun bujur nol. Magma Bulan bersifat basaltik - mirip magma dari mantel Bumi - sehingga bila muncul ke permukaan tentunya menghasilkan endapan2 kegelapan yang mudah diidentifikasi. Misi Apollo 11, 12 dan 14 memang mendarat di dekat ekuator Bulan, namun di lokasi2 pendaratannya tidak dijumpai endapan lava basaltik "segar" produk erupsi masa Resen. Para astronot Apollo memang menjumpai batuan basalt Bulan, breksi Bulan dan metamorf. 
 
Namun basalt dan breksi Bulan ini sudah cukup tua - produk vulkanisme berjuta tahun silam - sementara batuan metamorf-nya pun cukup tua juga dan malah menunjukkan ciri-ciri metamorfosis tekanan seperti yang umum dijumpai di kawah-kawah produk tumbukan benda langit. Sementara rille atau straight rimae - yang disebut-sebut sebagai jejak terbelahnya Bulan - itu tidaklah terkonsentrasi di area sejajar ekuator Bulan maupun bujur nol Bulan, namun tersebar secara random. Memang terdapat rille sejajar garis bujur nol, yakni satu rille cukup panjang di Mare Nubium (belahan selatan) dan kompleks rille Ariadaeus yang lebih pendek (belahan utara). Namun keduanya terlokalisir disekitar equator saja, tidak memanjang hingga kutub-kutub Bulan.
 
Maka sulit untuk mengatakan duarille ini sebagai jejak patahan kala Bulan terbelah.Lagipula, seandainya patahan ini ada, tentu wahanaantariksa semacam Clementine sudah bisa mendeteksinya sejak diluncurkan 1994 silam, karena bekas2 aktivitasgeologi Resen di Bulan senantiasa menghasilkan polafotometris (pada rasio UV/cahaya tampak maupun citra OMAT/Optical Maturity) yang lebih "biru". Bisa saja memang jejak2 patahan di Bulan tersembunyi di balik debu tebal hasil pelapukan batuan Bulan, meski hal ini sulit dibayangkan karena aktivitas pelapukan di Bulan sepenuhnya dikontrol angin Matahari dan radiasi kosmik dengan kecepatan pelapukan jauh lebih lambat dibanding pelapukan di Bumi.
 
Untuk mengetahui keberadaan patahan yang terkubur itu musti diketahui penampang melintang batuan Bulan hingga kedalaman beberapa km, yang bisa dibuat menggunakan bantuan gelombang gempa Bulan. Secara teknis hal inimemungkinkan, karena meski Bulan tidak memiliki lempeng tektonik dan vulkanisme-nya sudah mati, Bulan tergolong aktif secara seismik. 
 
Sedikitnya terdapat empat tipe gempa Bulan, yakni gempa dalam (hiposentrum> 700 km) akibat gaya tidal, gempa tumbukan meteorit, gempa termal oleh pemuaian kerak Bulan saat terpanasi cahaya (Matahari setelah dua minggu tergelapkan dan terdinginkan) serta gempa2 dangkal (hiposentrum 20 -30 km) yang sumbernya belum jelas. Gempa2 ini saya kira bisa dimanfaatkan untuk tomographic imaging padabagian dalam Bulan, termasuk untuk mencari patahan itu. 
 
2. Bulan "terlihat" Terbelah
 
Alternatif Pertama disebabkan oleh tumbukan benda langit (komet/asteroid) di Bulan, dimana ejecta-nya dihamburkan ke titik2 yang jauh dari kawah tumbukan dan membentuk endapan2 khas yang disebut "ray". Disini memang tidak terjadi pembelahan Bulan secara fisik, namun ray yang melintang di permukaan Bulan memberikan kesan luar biasa, karena lebih cerah dari lingkungan sekitarnya sehingga dari Bumi bisa terlihat seolah 'terbelah'. 
 
Agar tumbukan benda langit bisa menghasilkan ray sejajar ekuator Bulan, harus dipenuhi syarat berikut. Pertama, titik tumbuknya harus di dekat garis bujur 90° BB atau 90° BT. Kedua, diameter benda langititu harus cukup besar, sehingga lebar ray-nya (untuk diameter ejecta tertentu, anggaplah > 10 cm) mampu melebihi lebar minimum 120 km sementara panjangnya hampir menjangkau area pusat cakram Bulan (dilihat dari Bumi). Ketiga, dilihat dari titik tumbuk, benda langit tersebut datang dari ketinggian sangat rendah (oblique impact) sehingga bentuk kawah tumbukannya sangat eliptik seperti kawah2 tumbukan di Rio Cuarto, Argentina (Paillou dkk, 2004). Sejauh ini ada beberapa ray di Bulan dan yang fenomenal adalah ray di belahan selatan (panjangnya >1.000 km) yang bersumber dari kawah Tycho. Kawah ini terbentuk 109 juta tahun silam sehingga setting waktunya sulit dikaitkan dengan shaqq al-Qamar
Kawah termuda (untuk diameter > 10 km) yakni Giordano Bruno, kemungkinan terbentuk pada 1178 CE, namun diameternya 'hanya' 20 km sehingga lebar ray yang diproduksinya pun berkisar 20-an km saja, tidak melebihi 120 km. Didekat garis 90° BB dan 90° BT pada region ekuator memang dijumpai sejumlah kawah elliptik, namun usianya pun sudah sangat tua. Alternatif Kedua disebabkan Transit Meteor dengan Bulan dimana meteor nampak melintas di depan Bulan. Fenomena ini murni terjadi di atmosfer Bumi dan sangat jarang terjadi. 
 
Disini meteor itu harus memiliki apparent diameter minimum sebesar 1' (menit busur), maka kecemerlangannya harus melebihi terangnya Venus sehingga meteor itu adalah berupa fireball. Bila fireball-nya cukup banyak (sebagai storm), kolom udara yang dilintasinya akan terpanaskan hingga indeks biasnya berubah secara cepat dan terjadi aliran udara (akibat perbedaan temperatur) sehingga Bulan pun nampak 'bergerak-gerak' (analog dengan bintang yang nampak berkedip-kedip). 'Bergeraknya' Bulan bersamaan dengan 'terbelahnya' langit oleh kilatan cahaya amat terang, mungkin saja mendatangkan impresi luar biasa mengesankan bahwa Bulan sedang 'terbelah' (Withers, 2001). 
 
Fenomena transit antara fireball dengan Bulan hanya bisa disaksikan dalam area terbatas. Di luar area itu fireball dan Bulan memang masih terlihat, namun tidak berada di titik yang sama. Hal ini yang mungkin menyebabkan terbelahnya Bulan hanya bisa disaksikan di semenanjung Arabia dan Malabar semata, meski faktor ketinggian Bulan pun harus diperhitungkan. Dari mana asal fireball ini? Ini bisa diprediksi jika waktu terjadinya transit diketahui dengan pasti (yakni pada tanggal berapa, jam berapa dan terlihat darimana). 
 
Dari sini bisa diperoleh perkiraan elemen orbit meteoroidnya pada beragam kecepatan yang mungkin sehingga bisa dikerucutkan kira2 meteoroid itu bersumber dari mana, apakah dari sabuk asteroid, pecahan asteroid AAA maupun sisa komet. Secara kasar -tanpa melakukan analisis lebih jauh - fireball yang bertransit dengan Bulan dapat berupa meteor sporadik maupun shower. Ia juga bisa berasal dari batuan Bulan sendiri yang terlontarkan ke Bumi oleh peristiwa tumbukan benda langit. 
 
Dalam hal ini sebagian ejecta produk tumbukan harus memiliki kecepatan cukup tinggi (v>2,4 km/detik, kecepatan lepas untuk permukaan Bulan). Secara kasar ejecta2 itu membutuhkan waktu ± 1 minggu guna menempuh lintasan (elliptik) dari Bulan menuju Bumi. Agar bisa mengarahkan ejecta-nya ke Bumi, tumbukan itu harus oblique impact dan letak kawah tumbukannya harus di sisi jauh (farside) Bulan namun berdekatan dengan batas sisi dekat-sisi jauh Bulan, yakni di dekat garis bujur 90° BB atau 90° BT. 
 
Tumbukan harus memproduksi ejecta besar (diameter > 10 cm) cukup banyak dan bergerak dalam satu stream sehingga ketika memasuki atmosfer Bumi guyuran ejecta2 besar ini akan menjadi badai fireball. Karena terbelahnya Bulan hanya teramati dalam satu malam dan itu pun dalam selang waktu cukup sempit (asumsikan sekitar setengah jam), maka lebar stream ejecta ini harus jauh lebih pendek dibanding stream sisa-sisa komet yang menjadi sumber shower periodik di Bumi, dan kondisi ini memang hanya bisa muncul ketika terjadi tumbukan benda langit diBulan (Mims dkk, 1982).
 
Analogi Kejadian 25 Juni 1178 CE
  
Beratus tahun pasca shaqq al-Qamar, peristiwa yang mirip dilaporkan teramati oleh lima orang biarawan di Canterbury (51°17' LU - 01°05' BT), Inggris. Pada hari Senin 25 Juni 1178 CE (semula disebut 18 Juni, namun belakangan diralat) sejam setelah sunset, lima biarawan yang sedang duduk2 di satu bangku dan memandang ke arah Bulan tiba2 melihat Bulan (sabit) itu 'terbelah' dua pada ujung 'tanduk' atas-nya sembari menyemburkan asap dan kilatan cahaya.
 
Kemudian Bulan sabit itu nampak bergerak-gerak seperti ular terluka, lalu diam kembali. Fenomena selanjutnya ini berulang hingga puluhan kali. Hartung (Hartung, 1976) menganggap peristiwa itu adalah tampilan visual dari tumbukan benda langit di Bulan. Dari laporan itu bisa diidentifikasi sumber kilatan api dan asap berada di sekitar koordinat 45°LU 90° BT Bulan. Sangat mengesankan bahwa didekatnya, yakni pada koordinat 36°LU 103°BT Bulan, terdapat kawah Giordano Bruno (diameter 22 km) yang sirkular dan tanpa endapan debu tipis didasarnya, menandakan kawah ini masih sangat muda. 
 
Holsaple (Holsaple, 1993, dalam Withers, 2001) menunjukkan kawah ini dibentuk oleh benda langit berdiameter 1 - 3 km yang jatuh dengan range kecepatan 5-70 km/detik sembari menyemburkan ejecta sedikitnya 10 juta ton. Kawah Giordano Bruno adalah salah satu kawah Bulan yang memiliki sistem ray, dengan ray terpanjang (±1.000 km, mengarah ke azimuth selenografis 237°) setara dengan ray kawah Tycho, dimana kawah terakhir ini jauh lebih besar. 
 
Belakangan Hartung (Hartung, 1993) mengaitkan ray ini dengan shower Corvid (muncul 25 Juni - 2 Juli 1937) yang tidak bisadikaitkan dengan komet manapun dan tidak pernah muncul sebelumnya. Teramat jarangnya kemunculan shower Corvidmenunjukkan ia diproduksi oleh sumber yang terbelah/terpecah di masa Resen. 
 
Dengan memperhitungkan koordinat shower ini (RA : 12°, Dec: +19°) terhadap (hipotesis) waktu terbentuknya Kawah Giordano Bruno dan arah azimuth selenografis ray utama-nya, Hartung tiba pada kesimpulan bahwa ejecta dari Giordano Bruno-lah yang menjadi sumber meteoroid Corvid. Sifat tumbukan benda langit pembentuk Kawah Giordano Bruno adalah nyaris obliqe impact, datang dari azimuth selenografis 57° sehingga lontaran ejectanya dominan ke azimuth selenografis 237°. 
 
Eksperimen laboratorium oleh Gault dan Fechtig (Gaultdkk, 1963; Fechtig dkk, 1978, dalam Hartung, 1993) menunjukkan ejecta berkecepatan sangat tinggi (v>2,7 km/detik) mempunyai sudut elevasi hingga 60° terhadap horizon setempat dan inilah yang lepas ke angkasa dan menjadi meteoroid Corvid. Sangat mengesankan bahwa di Korea pada 11 Oktober 1178 CE malam muncul badai meteor demikian intensif yang mengarah ke Barat namun hanya terjadi semalam saja. 
 
Badai meteor ini tak bisa dikaitkan dengan shower2 utama yang telah dikenal, sehingga Mims menyimpulkan badai meteor ini berasal dari ejecta2 berkecepatan rendah produk tumbukan Giordano Bruno. Hipotesis Hartung ini mendapat sanggahan dari Ninninger (Ninninger dkk, 1977). Sulit membayangkan tumbukan bisa dilihat dari Bumi karena diameter kawah Giordano Bruno jauh lebih kecil dibanding kawah Clavius (diameter 230 km) dan Copernicus (diameter 96 km), dimana dua kawah terakhir ini pun hanya bisa diidentifikasi dengan jelas lewat teleskop. Ninninger juga menyanggah pendapat Hartung yang menyebut dalam tumbukan Giordano Bruno sempat terbentuk atmosfer temporer dengan indeks bias "udara"-nya beragam yang berakibat pada derajat pembiasan cahaya yang berbeda-beda di tiap titik, sehingga Bulan nampak bergerak-gerak.

Menurut Ninninger, ketika tumbukan menghasilkan gas, lingkungan dingin di Bulan membuat gas itu segera menyublim menjadi partikel2 padat yang lalu jatuh bebas ke Bulan. Menurut Ninninger, apa yang terlihat di Canterbury itu lebih merupakan peristiwa transit meteor terhadap Bulan. Sanggahan kritis dan komprehensif datang dari Withers (Withers, 2001). 
 
Berdasarkan citra2 bidikan Clementine, kawah Giordano Bruno disimpulkan berusia jauh lebih tua dibanding 800 tahun menurut pola fotometris (padarasio UV/cahaya tampak dan instrumen OMAT) yang dibentuknya, sehingga sulit dikaitkan dengan kejadian di Canterbury kecuali proses erosi di Bulan berjalan jauh lebih cepat dibanding yang diketahui saat ini. Lewat persamaan Neukum dan Ivanov (1994, dalam Withers, 2001), kawah Bruno diestimasikan terbentuk 350 juta tahun silam. Sementara berdasarkan umur absolut meteorit ALHA 81005, kawah Bruno diduga terbentuk sekurangnya 10.000 tahun silam (Warren, 1994 dalam Withers, 2001), namun sejauh ini relasi antara kawah Bruno dengan meteorit ALHA 81005 adalah lemah(Ryder & Ostertag, 1983 dalam Withers, 2001). Vickery dan Melosh (Vickery, 1987; Vickery & Melosh,1991 dalam Withers, 2001) menunjukkan diameter ejecta dari tumbukan Giordano Bruno yang bisa 'terbang' keangkasa berkisar 0,1 - 10 cm.

Tidak ada ejecta yang lebih besar dari 10 cm yang sanggup mengatasi gravitasi Bulan. Dengan menganggap 10 juta ton ejecta Giordano Bruno 'diterbangkan' ke Bumi secara langsung dan diameter ejecta adalah uniform pada angka 10 cm maka seorang pengamat di Bumi akan menyaksikan sebuah storm sepanjang 1 minggu penuh dengan 50.000 meteor/jam bila pengamatan dilakukan sampai 30 derajat dari zenith. Meteor2 ini memiliki magnitude rata2+1,7. 
 
Intensitas storm ini masih di bawah storm Leonid1966 yang demikian fenomenal itu, namun jauh di atasrata2 shower lainnya yang telah dikenal. Sehinggastorm Giordano Bruno seharusnya bisa dilihat olehbanyak penduduk Bumi di berbagai benua. Namun sejauhini, di tahun 1178 CE itu hanya ada catatan storm dariKorea saja (yakni pada bulan oktober), sementaraastronom2 Eropa, Arab, Cina dan Jepang yang rajinmencatat fenomena2 unik di langit tidaklah menyaksikanstorm. Ini yang membuat Withers menyimpulkan hipotesisterbentuknya kawah Giordano Bruno pada 25 Juni 1178 CEa dalah lemah. 
 
Epilog
 
Jika peristiwa shaqq al-Qamar dicoba diinterpretasikan dengan pembanding kejadian Canterbury 25 Juni 1178 CE, maka salah satu penjelasan yang logis adalah peristiwa transit meteor dengan Bulan. Tumbukan benda langit di Bulan tetap bisa diperhitungkan, karena mungkin saja tumbukan tersebut yang menjadi sumber bagi meteor2 yang kemudian menjalani transit dengan Bulan ketika dilihat dari daerah di antara Makkah dan Malabar. 
 
Jika hal itu yang terjadi, maka tumbukan tersebut harus menghasilkan kawah yang kecil (jauh lebih kecil dibanding Giordano Bruno) sehingga memproduksi ejecta yang terbatas dan ketika masuk ke atmosfer Bumi menghasilkan storm dalam rentang waktu yang pendek (tidak lebih dari satu hari). 
 
Sangat mengesankan, apabila hipotesis sumber meteoroid Corvid dari Hartung itu bisa dipercaya, menggunakan salah satu dari angka2 periode ulang shower yang diajukan Hartung (Hartung,1991) yakni 33 tahun dan tumbukan Giordano Brunoterjadi 10.000 tahun silam, maka kita mendapat kesan, selain pada Juni 1178 dan Juni 1932, shower Corvid ini juga bisa muncul pada bulan Juni 617 CE, hanya empat tahun sebelum Nabi SAW berhijrah. 
 
Sementara menginterpretasikan shaqq al-Qamar dengan kejadian tumbukan benda langit itu sendiri, atau dengan terbelahnya Bulan secara nyata (sehingga menyisakan patahan nan panjang), sejauh ini, bukti2 nya lemah. Namun demikian tidak dapat langsung disimpulkan bahwa shaqq al-Qamar semata merupakan peristiwa transit meteor dengan Bulan. Ilmu itu dinamis. Dalam beberapa puluh tahun ke depan mungkin saja pengetahuan kita tentang Bulan akan sangat jauh berbeda dengan apa yang kita terima saat ini, dan saat itu interpretasi akan shaqq al-Qamar bisa jadi sudah lebih baik dibanding masa kini. 
 
Seperti pengalaman 1960-an silam. Ketika NASA mengarahkan Apollo-nya ke Bulan, pengetahuan tentang Bulan langsung melonjak berlipat tiga hanya dalam waktu sepuluh tahun dibanding pra-peluncuran Apollo, yang telah dikumpulkan dengan susah payah sejak masa Galileo. 
 
Walaupun bukti-bukti secara empirik menunjukkan bahwa bulan pernah terbelah adalah lemah, saya sependapat dengan bapak DR. T. Djamaluddin dari LAPAN yang menyatakan bahwa kita mempercayai adaya mukjizat Rasulullah yang menunjukkan bahwa bulan terbelah yang dikaitkan dengan asbabun nuzul QS 54:1-2. tetapi itu tidak harus berarti secara fisik bulan terbelah. Bisa jadi, itu hanya fenomena di atmosfer bumi yang menyebabkan bulan tampak terbelah. Mukjizat memang tidak harus difahami dengan ilmu pengetahuan atau harus dicocokkan dengan logika ilmu pengetahuan. Mukjizat hanya cara menunjukkan kekuasaan Allah yang diberikan kepada Rasul-Nya. Kita harus menyakini adanya, tetapi tidak harus menalar bagaimana hal itu bisa terjadi.
  
Referensi :

Hartung. 1976. Was The Lunar Crater Giordano BrunoFormed on June 18, 1178? Lunar & Planetary Science(1976) p. 43. Hartung. 1991. A Corvid Meteor Shower is Predicted for 2003 or 2006. Lunar and Planetary Science 22 (765)p.81. Hartung. 1993. Corvid Meteoroids and A Giordano BrunoRay are Genetically Related. Lunar & Planetary Science 24 (1003) p.613 - 614. NASA Science News. 2006. Moonquakes. NASA, Maret 2006. Ninninger, et.al. 1977. Was The Formation of Lunar Crater Giordano Bruno Witnessed in 1178? Look Again. Meteoritics vol. 12 no. 1 (1977) p. 21 - 25. Mims, et.al. 1982. Meteors from Giordano Bruno Ejecta. Lunar & Planetary Science 13 (1982) p. 520 - 521. Paillou, et.al. 2004. Discovery of the Largest Impact Craterfield on Earth in the Gilf Kebir Region, Egypt. CR Geoscience 336 (2004) p. 1491 - 1500. Sultan. 2003. Hijri Calendar & Lunar Visibility :Physical Approach. Amman : 3rd Islamic Astronomical Conference, Astronomical Applications in Islamic Shari'a, Oct 2003. Withers. 2001. Meteor Storm Evidence Against The Recent Formation of Lunar Crater Giordano Bruno. Lunar& Planetary Science 32 (2001). Wikipedia. Splitting of the Moon http://en.wikipedia.org/wiki/splitting_of_the_moon.html
 
Salam,
Ma'rufin Sudibyo - Jogja Astro Club (JAC)

45 komentar:

  1. Saya pernah baca di Kedaulatan Rakyat (kurang lebih th 90an awal) bahwa pada zaman dulu pernah ada meteor yg menumbuk bulan dgn keras sehingga menimbulkan debu yg tersebar secara melintang yang menimbulkan kesan bulan terbelah. Dan peristiwa itu tercatat oleh seorang astronom sekitar abad2 awal masehi. Mungkin penjelasan yg sedikit ilmiah seperti itu pak? (penjelasan detil di korannya saya lupa)

    BalasHapus
  2. Saya rasa saya setuju dengan pendapat dari bapak T Djamaluddin tentang mukjizat bulan terbelah tidak usah dijelaskan dengan pendekatan ilmiah, walaupun setahu saya ada sebagian mu'jizat lainnya dapat diterangkan dengan fisika modern. Jadi saran saya sebaiknya bahas lainnya saja.

    BalasHapus
  3. Saya sih nggak tahu persis tentang perihal yang gue anggap "Hebat" ini. namun jika kita meninjau dari segi religi bukankah terbelahnya bulan merupakan pertanda akhir zaman yang telah dijanjikan oleh Allah swt dan menjadi pelengkap pertanda-pertanda lainnya yang kemunculannya bak mata rantai yang terputus (saling menyusul) tidakkah kaian memahaminya ???

    BalasHapus
  4. 1. Photo pada artikel “Bulan terbelah” adalah benar (tanpa modifikasi) bersumber dari NASA, tetapi narasi kesimpulan terhadap ‘rille’ yang di photo tidak bersumber dari NASA.

    2. Pengambilan kesimpulan bukti “bulan terbelah” hanya berdasarkan satu atau beberapa photo rille adalah sangat dangkal, dan hanya memberikan/menghasilkan bahan olok-olokan dari pihak non-muslim. Apakah ini karena sedemikian tertinggalnya Ilmuwan-ilmuwan Muslim di zaman sekarang ini??

    3. Kutipan dari Sumber Web Asli, yang membahas secara lengkap kronologis berita temu wicara di televisi (televise mana, disiarkan kapan, apakah ada arsipnya, …) bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, tidak berhasil saya ditemukan di Internet.

    4. Tambahan informasi dari Daud Musa Pitkhok (??) ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris (??) bahwa pernah menonton di televisi Inggris (BBC) mengenai diskusi dengan kesimpulan “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali!”, hanya dapat saya temukan versi bahasa Indonesianya. Berbagai search keyword yang serupa dalam bahasa Inggris tidak menghasilkan link.

    5. Sebagai Muslim, tidak ada keraguan akan hadits shahih yang menerangkan terbelahnya bulan oleh Rasulullah. Tetapi iman/percaya akan mukjizat ini, tidak ada relevansinya dengan harus mempercayai artikel bukti terbelahnya bulan hanya berdasarkan photo Rille dari NASA. Pembuktian Ilmu harus secara kaidah Ilmiah, dan harus di acknowledge oleh beberapa Ilmuwan lainnya. Ilmuwan NASA belum pernah menyimpulkan semacam ini, dan juga belum ada Ilmuwan Muslim yang (secara shahih) menyimpulkan hal semacam itu.

    6. Mukjizat nabi tidak perlu dukungan pembuktian Ilmiah. Kalau memang akan dilakukan, menyandarkan suatu pembuktian Ilmiah kepada Mukjizat hanya boleh jika benar-benar pembuktian ilmiah tersebut disepakati oleh semua pihak seperti jelasnya perbedaan warna hitam dan putih. Dalam dunia Ilmiah hal ini sudah dikategorikan sebagai Hukum (Hukum Gravitasi, Hukum Kekekalan Energi, …). Bagaimana kuatnya pun suatu teori (semisal Teori Relativitas Einstein), belum bisa diakomodir untuk suatu pembenaran Mukjizat.

    7. Mungkin perlu direnungkan secara mendalam:
    “jika Allah berkehendak memperlihatkan secara hitam putih suatu kebenaran, maka adalah sangat mudah bagi-Nya untuk melakukannya dan tidak ada sesuatupun yang dapat menghalanginya”. Tetapi, manusia diciptakan bukan untuk hal sesederhana itu – hanya untuk melihat kebenaran hitam putih (mukjizat/keajaiban yang sangat nyata) tanpa perlu proses pencarian, fikr, dan kemudian berserah diri. Manusia diberikan kemampuan akal dan kalbu yang sangat powerful, dimana dengan bekal itu kita ditugaskan untuk menggali dan mendapatkan kebenaran itu dari dasarnya, tentunya dengan tuntunan utama Al-Qur’an.
    _________________________________

    Akhirul Kalam

    Keajaiban / mukjizat terpampang setiap hari dihadapan kita, baik disadari ataupun tidak, tetapi berapa banyak orang yang melihat/mengalami mukjizat tersebut yang menjadi beriman tanpa rahmat dari Allah?

    Pada saat Nabi secara kasat mata memperlihatkan Mukjizat yang dikaruniakan kepada beliau, seperti bulan terbelah, Israj Mi’raj, dll. (ada ratusan mukjizat yang dirangkumkan dari hadits shahih, yang secara lengkap dapat dilihat pada buku yang sudah banyak beredar), berapa banyak yang menjadi beriman dengan hal tersebut? Terkadang, malah mukjizat tersebut menjadi cobaan dan tidak menjadi peneguh.

    Mari kita berkonsentrasi mempermantap Aqidah dan menebalkan Iman, utamanya di bulan Ramadhan 1429H ini, dengan melakukan satu step langkah maju, mulai melakukan tadabbur Al-Qur’an - mempelajari isi Al-Qur’an. Boleh jadi dengan ilmu yang terus bertambah, suatu saat mata bathin kita terbuka sehingga dapat melihat secara jelas hakikat yang mungkin masih belum terlihat oleh kita di saat ini.


    Wallahu'alam bisshawab.

    BalasHapus
  5. Saya ingin mencantumkan komentar tentang ini. Dengan mengutip Bapak Ma'rufin Sudibyo, dikatakan jika Bulan benar-benar terbelah secara fisik maka jelas ada bekas patahannya sehingga bulan - yang saat itu kemungkinan berfase setengah lingkaran - benar-benar terbelah, bidang pembelahan itu kemungkinan besar sejajar dengan ekuator maupun bujur nol-nya. Belahan Utara dan Selatan Bulan (atau Barat dan Timur, jika bidang pembelahannya sejajar bujur nol) akan terpisah sejenak hingga berjarak minimal 120 km, untuk kemudian menyatu kembali.

    Ini berarti patahannya akan sangat panjang sekali, namun jika kita kaji website NASA tempat gambar berada (http://apod.nasa.gov/apod/ap021029.html), terkutip demikian:

    Three types of rilles are now recognized: sinuous rilles, which have many meandering curves, arcuate rilles which form sweeping arcs, and straight rilles, like Ariadaeus Rille pictured above. Long rilles such as Ariadaeus Rille extend for hundreds of kilometers.

    Jadi, gambar ini adalah Ariadaeus Rille, yang memiliki link ke website ini:

    http://www.ne.jp/asahi/stellar/scenes/moon_e/moon_a32.htm

    Pada website ini, terlihat gambar ini:

    http://www.ne.jp/asahi/stellar/scenes/moon/a32_mono.jpg

    dimana Ariadaeus Rille (disimbolkan sebagai "A") sangat pendek jika dibandingkan dengan panjang patahan yang mungkin terjadi jika Bulan benar2 terbelah. Lagipula, seperti yang dikatakan oleh Ma'rufin Sudibyo, fenomena di atmosfer bumi yang menyebabkan bulan tampak terbelah yang paling mungkin terjadi. Memang sulit menanggapi mujizat Nabi-Nabi dengan nalar, namun tidak berarti menerima kenyataan disamakan dengan kehilangan iman Islami kita.

    Wassalam

    (Untuk membaca komentar Pak Ma'rufin, ketik Ctrl+A atau klik kanan + "Select All")

    BalasHapus
  6. Kayaknya kata2 terakhir, epilog terpenting, justru ga pada dibaca :

    "Walaupun bukti-bukti secara empirik menunjukkan bahwa bulan pernah terbelah adalah lemah, saya sependapat dengan bapak DR. T. Djamaluddin dari LAPAN yang menyatakan bahwa kita mempercayai adaya mukjizat Rasulullah yang menunjukkan bahwa bulan terbelah yang dikaitkan dengan asbabun nuzul QS 54:1-2. Tetapi itu tidak harus berarti secara fisik bulan terbelah. Bisa jadi, itu hanya fenomena di atmosfer bumi yang menyebabkan bulan tampak terbelah. Mukjizat memang tidak harus difahami dengan ilmu pengetahuan atau harus dicocokkan dengan logika ilmu pengetahuan. Mukjizat hanya cara menunjukkan kekuasaan Allah yang diberikan kepada Rasul-Nya. Kita harus menyakini adanya, tetapi tidak harus menalar bagaimana hal itu bisa terjadi."

    Saya fikir sudah cukup lugas dan jelas, tak perlu saya komentari lagi


    Ma'rufin

    BalasHapus
  7. sehebat apapun ilmu anda,sedetail apapun penjelasan anda yang meragukan kekuasaan Allah Swt dan muzijat nabi Muhamad Saw,tidak akan mengurangi keimanan kami umat Muslim kepada Allah Swt.
    fenomemna2 apalagi yang akan anda kemukakan untuk menolak muzijat ini.
    Tolong beri penjelasan ilmiah juga untuk muzijat nabi musa merubah tongkat menjadi ular atau laut merah yang terbelah atau muzijat nabi isa yang bisa bicara ketika baru lahir atau menghidupkan orang yang sudah mati!MAMPU?????
    memang tidak semua muzijat bisa dibuktikan secara ilmiah.
    jadiiii...janganlah kemampuan anda yang belum ada apa2nya digunakan untuk mengomentari hal yang jauh diluar kemampuan anda sebagai manusia!
    janganlah komentar anda seolah olah meragukan muzijat nabi besar Muhamad Saw!

    BalasHapus
  8. Logikanya...
    Quran adalah perkataan Allah dan tidak mungkin Allah salah mengatakan bahwa Bulan terbelah adalah fenomena dgn adanya meteor lewat dsb...
    Itu adalah valid perkataan Allah dan harus benar.
    Tapi bila ada satu saja kesalahan dalam Quran (misalnya hal ini) maka seluruh Quran itu adalah salah.
    Harap berhati-hati dalam membuat pernyataan.

    BalasHapus
  9. Saudara Ma'rufin sudah menyimpulkan...,so benar tidak perlu ditambahkan. Tapi terus terang artikel ini menarik sekali.

    BalasHapus
  10. Wah mas Anonim mbok tabayyun dulu, jangan buru2 memvonis. Mbok dibaca yang komplit. Lha wong di kesimpulan saya jelas2 tertulis :

    "Mukjizat memang tidak harus difahami dengan ilmu pengetahuan atau harus dicocokkan dengan logika ilmu pengetahuan. Mukjizat hanya cara menunjukkan kekuasaan Allah yang diberikan kepada Rasul-Nya. Kita harus menyakini adanya, tetapi tidak harus menalar bagaimana hal itu bisa terjadi."

    Itu intinya. Mukjizat tidak harus sama dengan yang dibuktikan sains. Merujuk Ilmu Islam Profetiknya Naguib al-Attas, Ismail Raji' al-Faruqi dan juga Kuntowijoyo, ketika terjadi kontradiksi antara mukjizat dengan pembuktian sains, maka yang dikedepankan adalah mengimani mukjizatnya. Dan tidak sekedar berhenti mengimani mukjizat, namun lebih baik lagi jika kita bisa mengambil pelajaran darinya dan digunakan untuk mengelola alam semesta ini sesuai dengan tugas kita sebagai khalifatu 'alal ardh. Mukjizat terbelahnya Bulan seharusnya bisa merangsang kita untuk mengembangkan teknologi profetis, yang selain mampu mengirim alat dan manusia ke Bulan, juga bermanfaat bagai pemanfaatan ruang angkasa.

    Adapun soal mukjizat Musa AS, demikian juga Isa AS, ya silahkan bagi yang berkecimpung di dunia biologi dan rumpunnya untuk menganalisisnya lebih lanjut. Saya tidak punya kemampuan untuk itu, dan jika "gegabah" melakukan analisis tanpa dasar yang kuat, so namanya melakukan urusan yang bukan ahlinya.

    Salam,


    Ma'rufin

    BalasHapus
  11. Saya percaya bahwa saat itu bulan memang benar-benar terbelah secara fisik. Saksi2 mata telah menceritakan dari berbagai penjuru menguatkan berita itu.
    Memang, bukti ilmiahnya akan sulit ditemukan, namanya juga mukjijat - sesuatu yang diluar hukum-hukum yang umum. Maka untuk percaya juga tidak harus melewati jalur umum, fakta dulu baru percaya tapi percaya dulu baru fakta.

    BalasHapus
  12. Melihat foto di atas, menurut Didit_ndut yang juga belajar geologi tapi belum jadi professor dan juga bukan pakar telematika sekaliber Roy Suryo :
    “Saya agak berbeda dengan interpretasi Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar”. Melihat foto bulan tersebut, dia melihat beberapa kenampakan morfologi (permukaan) bulan sbb:
    1. Foto tersebut memiliki dua sumber cahaya (sinar) yang dilihat dari dua arah bayangan yang berbeda dan saling tegak lurus (misal bayangan dalam cekungan yang membulat dan bayangan dari lembah yang memanjang yang saling tegak lurus).
    2. Terdapat fenomena garis lurus putih, paralel dengan lembah memanjang yang nampaknya bukan akibat kerusakan sensor perekam yang sampai sekarang didit_ndut masih bingung, fenomena apakah itu?.
    3. Dimensi foto itu sangat besar, berarti sekala foto itu sangat kecil.
    4. Dalam foto sekala sangat kecil maka kemungkinan lembah memanjang itu memiliki dimensi puluhan or ratusan km, demikian juga diameter kawah yang terbentuk akibat hujan meteor.
    5. Apabila dimensinya cukup besar, maka seharusnya dapat dilihat dari berbagai stasiun observer di bumi, kecuali apabila dia selalu berada di sisi bayangan bulan.
    6. Lembah memanjang itu terbentuk bukan akibat hantaman meteor tetapi akibat proses endogen yang di bumi disebut sebagai normal fault (sesar normal).
    7. Di kaki lembah terdapat gundukan sedimen memanjang dengan diameter yang besar dalam kilometer berupa spoor dan triangular facet.
    8. Pembentukan spoor dan triangular facet sebagai pengisi lembah dengan kenampakan teras (bertingkat) menunjukkan proses membelahnya (fault) itu terjadi dalam beberapa tahap secara perlahan.
    9. Terpotongnya spoor oleh kawah, menunjukkan adanya hantaman meteor besar setelah terbentuknya spoor atau jauh setelah terjadi pembelahan. (Jadi membelah dahulu baru terhantam meteor).
    10. Proses pembelahan dan sedimentasi ini berlangsung dalam sekala waktu geologi (ratusan ribu or bahkan jutaan tahun).
    11. Agak sulit diinterpretasikan bahwa kejadian ini terjadi pada masa yml Rasulullah saw hidup (yaitu sekitar 1300 tahun yll), karena proses ini kemungkinan terjadi jauh sebelum beliau lahir.
    12. Bila benar bulan itu membelah pada zaman yml saw hidup, maka seharusnya juga tercatat dalam prasasti or catatan sejarah bangsa-bangsa lainnya. Karena tahun 700an Masehi, jangankan bulan yg membelah, gempa bumi dan gunung meletus sudah mulai tercatat dalam berbagai situs. Didit_ndut belum pernah menemukan situs yang mencatat terbelahnya bulan di masa yml saw hidup.
    Tulisan ini bukan dibuat karena penulis tidak percaya kepada mukjizat dari Allah swt, tetapi karena takut, apabila penjelasan yang seolah-olah ilmiah dari berbagai kalangan ternyata keliru dan terbukti salah. Dengan dating radioisotop, kita dapat mengetahui umur absolute endapan di dalam rekahan tersebut, apabila ternyata umurnya mencapai ratusan ribu bahkan jutaan tahun yang lalu sebagaimana uraian di atas, maka akan memberi kesan bahwa mukjizat yml saw adalah palsu. Oleh karena itu dituntut kehati-hatian dalam melihat fenomena alam dan menghubungkannya dengan mukjizat.
    Sebetulnya banyak sekali mukjizat yang bisa dijelaskan secara ilmiah, terbelahnya laut merah zaman Musa vs Firaun misalnya, itu adalah peristiwa alam yang periodik, bahtera Nabi Nuh juga demikian, silahkan membaca di berbagai situs dan juga di National geographic.
    Wassalam

    BalasHapus
  13. Artikel yang bagus, cuman mbok yo jangan ditulis puluhan tahun menggeluti dunia astronomi amatir. Memangnya umurmu berapa? sejak baru lahir dah menggeluti dunia astronomi. misal sejak kelas 6 SD pun mungkin belum 20 tahun yang lalu.

    BalasHapus
  14. Suprayogi
    Apapun yang dilakukan Nabi Muhammad SAW... Mau membelah bulan atau mencincang bulan... Saya PERCAYA..
    Sekarang tinggal kita yang mencari ilmunya... Jangan karena belum tahu tapi sedah berani menyatakan tidak benar... Nanti kalau ternyata 100 tahun kemudian terbukti, apa mau tanggung dosanya terhadap seratus tahun pengikut paham yang salah itu. Karena mukjijat itu jelas dan bukan kata-kata kiasan.

    BalasHapus
  15. Ucup
    Alquran adalah mukjizat sekaligus ilmu yang sangat luas,karena datang dari sang Maha Kaya Ilmu,yang dulu orang bilang mustahil ternyata sekarang telah banyak terbukti kebenarannya. bagaimana orang zaman Nabi bisa percaya bahwa Nabi diperjalankan ke langit Shaf 7 dan kembali lagi hanya dalam 1/3 malam. kendaraan macam apa yang di naikinya, dan secepat apa?. apakah cerita itu hanya bersifat konotasi belaka......sama dengan kejadian bulan terbelah. tugas kita sebagai Muslim untuk meng-imani dan mencari kebenarannya untuk semakin dekat kepada-Nya serta mengabarkan berita yang benar kepada umat manusia. bukan semakin menjauh. suatu saat apa yang telah di kabarkan oleh Alquran pasti terbukti, bukan hanya kiasan.waktu yang akan menjawabnya.Bagi Allah semua itu Mudah.Kun Fayakun.

    BalasHapus
  16. kun fayakun......
    takkan ku debat berita dari al-quran, krn ilmu Allah maha luas. bahkan ilmu manusia paling jenius dimuka bumipun "cuma" bagai partikel terkecil dari sebutir debu di hadapan-Nya.
    masihkah kita pantas untuk angkuh dan sombong?????
    laa haulaa walaaquwwata ilaa billaah......

    BalasHapus
  17. seek the truth brother...
    then you'll be enlighted.
    peace.

    BalasHapus
  18. Kepada Yth. Sdr.T.Djamaluddin dan Ma'rufin Sudibyo ..

    Terlepas dari polemik soal apakah suatu Mukjizat mesti dapat dibuktikan secara ilmiah, nyatanya mukjizat terbelahnya bulan memang benar-benar terjadi dengan disaksikan oleh banyak mata baik dari kalangan penduduk Makkah sendiri maupun daerah-2 sekitarnya, bahkan teramati pula di Malabar (India barat daya) oleh raja Chakrawati Farmas yang menyebutnya sebagai "kabar dari langit" tentang tanda2 kenabian yang telah turun di Arab .....

    Perihal kebenaran terjadinya fenomena 'Bulan terbelah, pun diakui sendiri oleh beberapa sarjana muslim seperti T. Djamaluddin dan Ma'rufin Sudibyo yg menyangkal keberadaan bukti ilmiah dari peristiwa itu .

    NAMUN SAYANGNYA, SEPERTINYA MEREKA BERDUA ( T. Djamaluddin dan Ma'rufin Sudibyo ) TAK MENYADARI KETERSANGKALAN PENGAKUAN KEIMANAN MEREKA AKAN KEBENARAN MUKJIZAT ITU OLEH PERKATAAN MEREKA SENDIRI YANG MENGANGGAP KEJADIAN TERBELAHNYA BULAN ITU HANYA SEBAGAI 'TIPUAN ATMOSFIR ' BELAKA ....

    MEREKA BERDUA SEOLAH-OLAH MENGATAKAN BHW BULAN TIDAK PERNAH TERBELAH TAPI HANYA TERKESAN TERBELAH .....

    MAKA DI SINILAH LETAK KEGANJILAN KEIMANAN MEREKA BERDUA SEKALIGUS KECEROBOHAN KEILMUAN MEREKA YANG TELAH MERASA SEPENUHNYA MEMAHAMI ALAM RAYA SECARA TUNTAS !

    PADAHAL ILMU ALLAH SEDEMIKIAN LUASNYA HINGGA TAK MUNGKIN TERJANGKAU OLEH AKAL PIKIRAN MANUSIA, DAN KEKUASAAN ALLAH PUN JELAS MENEMBUS SEGALA KETIDAKMUNGKINAN YANG SEMPAT TERBAYANG DALAM BENAK MEREKA ...

    SEHINGGA KITA PUN TERPAKSA BERTANYA DENGAN NADA SINIS KPD MEREKA BERDUA :

    1. Apakah dengan keilmuan yang kalian miliki sudah merasa cukup utk membedah segala rahasia ilmu Allah di alam raya ini termasuk rahasia ilmu Allah di balik peristiwa terbelahnya bulan ?? Apakah kalian tidak pernah merasa bahwa di balik pengetahuan kalian yg cukup mengagumkan itu ternyata masih terbentang sedemikian luasnya tanpa terkira samudera rahasia ilmu Allah yang belum kalian pahami ?!?

    2. Apakah dengan pengetahuan kalian ttg berbagai tetek bengek yang bersangkutan dgn bulan dan benda angkasa lainnya, kalian sudah merasa berhak membatalkan 'kebenaran kejadian terbelahnya bulan dgn sebenar-benarnya terbelah' dan menawarkan pandangan yg 'lebih ramah' bagi kadar pengetahuan kalian dengan menyebut peristiwa itu hanya sebagai 'tipuan atmosfir belaka yang membuat bulan terkesan terbelah' ?!?

    3. Apakah tiada pernah singgah di benak kalian ttg Kemahakuasaan Allah utk membelah bulan dengan sebenar-benarnya terbelah dan lantas menyatukannya kembali secara utuh seperti semula tanpa bekas sedikit pun jua seperti halnya ketika Allah membelah lautan di zaman Nabi Musa AS .. ?? Apakah Kemahakuasaan Allah menurut kalian tidak memungkinkan utk merapikan kembali tanpa cacat sedikit pun apa-apa yang telah diceraiberaikannya, sebagaimana Allah telah menceraiberaikan tubuh burung di zaman Nabi Ibrahim AS dan menyatukan kembali organ-organnya seperti semula tanpa cela sedikit pun jua, atau sebagaimana Allah mengembalikan diri kita semua utuh seperti semula setelah porak poranda oleh tiupan Israfil di Hari Kiamat ???
    Mengapa kalian harus memaksakan adanya 'suatu bekas" yang menjadi bukti kenyataan terbelahnya bulan, padahal dengan pemaksaan itu sebenarnya kalian telah menuduh Allah tidak berhasil menyatukan dan merapikan kembali secara mulus apa yang telah dibelah oleh Kekuatan-Nya ?!?

    Wahai Saudaraku, coba renungkanlah pertanyaan-2 di atas dengan penuh kerendahan hati beserta keimanan yang menyala ....

    Semoga Allah memberikan petunjuk dan mengampuni kekeliruan anda berdua ...

    Wallahu 'alam bish-shawab .

    BalasHapus
  19. Kepada Yth. Sdr.T.Djamaluddin dan Ma'rufin Sudibyo ..

    Terlepas dari polemik soal apakah suatu Mukjizat mesti dapat dibuktikan secara ilmiah, nyatanya mukjizat terbelahnya bulan memang benar-benar terjadi dengan disaksikan oleh banyak mata baik dari kalangan penduduk Makkah sendiri maupun daerah-2 sekitarnya, bahkan teramati pula di Malabar (India barat daya) oleh raja Chakrawati Farmas yang menyebutnya sebagai "kabar dari langit" tentang tanda2 kenabian yang telah turun di Arab .....

    Perihal kebenaran terjadinya fenomena 'Bulan terbelah, pun diakui sendiri oleh beberapa sarjana muslim seperti T. Djamaluddin dan Ma'rufin Sudibyo yg menyangkal keberadaan bukti ilmiah dari peristiwa itu .

    NAMUN SAYANGNYA, SEPERTINYA MEREKA BERDUA ( T. Djamaluddin dan Ma'rufin Sudibyo ) TAK MENYADARI KETERSANGKALAN PENGAKUAN KEIMANAN MEREKA AKAN KEBENARAN MUKJIZAT ITU OLEH PERKATAAN MEREKA SENDIRI YANG MENGANGGAP KEJADIAN TERBELAHNYA BULAN ITU HANYA SEBAGAI 'TIPUAN ATMOSFIR ' BELAKA ....

    MEREKA BERDUA SEOLAH-OLAH MENGATAKAN BHW BULAN TIDAK PERNAH TERBELAH TAPI HANYA TERKESAN TERBELAH .....

    MAKA DI SINILAH LETAK KEGANJILAN KEIMANAN MEREKA BERDUA SEKALIGUS KECEROBOHAN KEILMUAN MEREKA YANG TELAH MERASA SEPENUHNYA MEMAHAMI ALAM RAYA SECARA TUNTAS !

    PADAHAL ILMU ALLAH SEDEMIKIAN LUASNYA HINGGA TAK MUNGKIN TERJANGKAU OLEH AKAL PIKIRAN MANUSIA, DAN KEKUASAAN ALLAH PUN JELAS MENEMBUS SEGALA KETIDAKMUNGKINAN YANG SEMPAT TERBAYANG DALAM BENAK MEREKA ...

    SEHINGGA KITA PUN TERPAKSA BERTANYA DENGAN NADA SINIS KPD MEREKA BERDUA :

    1. Apakah dengan keilmuan yang kalian miliki sudah merasa cukup utk membedah segala rahasia ilmu Allah di alam raya ini termasuk rahasia ilmu Allah di balik peristiwa terbelahnya bulan ?? Apakah kalian tidak pernah merasa bahwa di balik pengetahuan kalian yg cukup mengagumkan itu ternyata masih terbentang sedemikian luasnya tanpa terkira samudera rahasia ilmu Allah yang belum kalian pahami ?!?

    2. Apakah dengan pengetahuan kalian ttg berbagai tetek bengek yang bersangkutan dgn bulan dan benda angkasa lainnya, kalian sudah merasa berhak membatalkan 'kebenaran kejadian terbelahnya bulan dgn sebenar-benarnya terbelah' dan menawarkan pandangan yg 'lebih ramah' bagi kadar pengetahuan kalian dengan menyebut peristiwa itu hanya sebagai 'tipuan atmosfir belaka yang membuat bulan terkesan terbelah' ?!?

    3. Apakah tiada pernah singgah di benak kalian ttg Kemahakuasaan Allah utk membelah bulan dengan sebenar-benarnya terbelah dan lantas menyatukannya kembali secara utuh seperti semula tanpa bekas sedikit pun jua seperti halnya ketika Allah membelah lautan di zaman Nabi Musa AS .. ?? Apakah Kemahakuasaan Allah menurut kalian tidak memungkinkan utk merapikan kembali tanpa cacat sedikit pun apa-apa yang telah diceraiberaikannya, sebagaimana Allah telah menceraiberaikan tubuh burung di zaman Nabi Ibrahim AS dan menyatukan kembali organ-organnya seperti semula tanpa cela sedikit pun jua, atau sebagaimana Allah mengembalikan diri kita semua utuh seperti semula setelah porak poranda oleh tiupan Israfil di Hari Kiamat ???
    Mengapa kalian harus memaksakan adanya 'suatu bekas" yang menjadi bukti kenyataan terbelahnya bulan, padahal dengan pemaksaan itu sebenarnya kalian telah menuduh Allah tidak berhasil menyatukan dan merapikan kembali secara mulus apa yang telah dibelah oleh Kekuatan-Nya ?!?

    Wahai Saudaraku, coba renungkanlah pertanyaan-2 di atas dengan penuh kerendahan hati beserta keimanan yang menyala ....

    Semoga Allah memberikan petunjuk dan mengampuni kekeliruan anda berdua ...

    Wallahu 'alam bish-shawab .

    BalasHapus
  20. Setelah saya melihat postingan ini,saya harapkan kita semakin semangat untuk mencari Ilmu Pengetahuan.Karena Ilmu pengetahuan itu kan bersumber dari Yang Maha Suci.Dari pada ngotot lebih baik belajar keras untuk mencari Ilmu.

    BalasHapus
  21. Semoga Rahmat terlimpah kepada Manusia menuju ke Imanannya.
    Iman dapat dicapai dengn dua jalan (bisa secara terpisah maupun bersamaan dan keduanya pun tidak saling meniadakan), yaitu: 1. Jalan Yakin & Percaya, 2. Jalan Ilmu.
    Kedua2nya sah menurut Al Qur'an. Bagi yg meretas jalan keimanan melalui Iman tdk salah, silakan bertualang dilautan Ilmu semoga Hidayah Allah tercurah. Demikian pula bagi yg memilih cukup percaya& Yakin semoga Allah mencurahkan Istiqomah di dalam Hati. Amin..
    Masalah pembuktian semua Mukjizat Allah yg perna ada, hanya masalah waktu dan tidak dpt dijadikan sbg dasar seseorang mendapatkan hidayah/petunjuk kpd iman, karena telah jelas bahwa Hidayah hanya tersangkut langsung sebagai Hak Prerogaratif Allah SWT dan dengan cara Beliau menghendaki Nya.
    Sudah cukup banyak bukti secara nyata tidak terbantahkan pun tidak menjamin akan membuat seseorang akan beriman. Segala bentuk pembuktian hanyalah bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia itu sendiri, tidak bagi Allah.
    Semoga kita berlepas diri dari orang yang suka berbantahan.
    Wawlahualam bissawab,
    Wassalam

    BalasHapus
  22. Semoga Rahmat terlimpah kepada Manusia menuju ke Imanannya.
    Iman dapat dicapai dengn dua jalan (bisa secara terpisah maupun bersamaan dan keduanya pun tidak saling meniadakan), yaitu: 1. Jalan Yakin & Percaya, 2. Jalan Ilmu.
    Kedua2nya sah menurut Al Qur'an. Bagi yg meretas jalan keimanan melalui Ilmu tdk salah, silakan bertualang dilautan Ilmu semoga Hidayah Allah tercurah. Demikian pula bagi yg memilih cukup percaya& Yakin semoga Allah mencurahkan Istiqomah di dalam Hati. Amin..
    Masalah pembuktian semua Mukjizat Allah yg perna ada, hanya masalah waktu dan tidak dpt dijadikan sbg dasar seseorang mendapatkan hidayah/petunjuk kpd iman, karena telah jelas bahwa Hidayah hanya tersangkut langsung sebagai Hak Prerogaratif Allah SWT dan dengan cara Beliau menghendaki Nya.
    Sudah cukup banyak bukti secara nyata tidak terbantahkan pun tidak menjamin akan membuat seseorang akan beriman. Segala bentuk pembuktian hanyalah bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia itu sendiri, tidak bagi Allah.
    Semoga kita berlepas diri dari orang yang suka berbantahan.
    Wawlahualam bissawab,
    Wassalam

    BalasHapus
  23. Apakah Pak T. Djamaluddin sudah Pernah menelti langsung ke Bulan ..atau hanya data2 dari NASA yang belum tentu semuanya diberikan

    BalasHapus
  24. tentu saja NASA tidak akan memberikan keterangan dalam foto itu bahwa ini bukti muzizat nabi muhammad saw, bukti bahwa bulan pernah terbelah, karena mereka semua yahudi, yang tak mengimani Al Quran.

    BalasHapus
  25. hati-hati jngn berbicara lancang seperti ini

    "Saya mempercayai adaya mukjizat Rasulullah yang menunjukkan bahwa bulan terbelah yang dikaitkan dengan asbabun nuzul QS 54:1-2. Tetapi itu tidak harus berarti secara fisik bulan terbelah. Bisa jadi, itu hanya fenomena di atmosfer bumi yang menyebabkan bulan tampak terbelah"

    secara tdk langsung pernyataan ini merupakan penolakan tentang kebenaran bahwa bulan itu memang terbelah... saranku janganlah kau kafir dalam berbicara kawan... ^_^ sabarlah jika ilmu manusia itu memang terbatas.

    BalasHapus
  26. Barangkali kecongkakan besar yang menghalangi kita utk menerima suatu kebenaran adalah selalu melandaskan segala sesuatu yang bersangkutan dgn perkara keimanan pada pijakan keilmiahan yang terkungkung dalam bilik sempitnya yang bernama sains ...

    Padahal ...

    Seringkali apa yang dipuja orang sebagai suara ilmiah ternyata sekedar mendulang memori dari kaca mata sains yang terseok-seok dalam keterbatasan jangkauan penglihatannya ... Apa yang disebut sebagai temuan ilmiah ternyata cuma rekaman kosong dari apa yang belum mampu diketemukan oleh perangkat sainsnya ...

    Sains memang ibarat mata dunia ilmiah, namun apakah barangkali kita lupa bahwa kita seringkali tertipu oleh mata kita sendiri ? Kita pun maklum, sebagaimana mata lahiriah bagi tubuh kita yang serba terbatas adanya - mata sains pun seringkali menipu tubuh ilmiahnya sendiri ...

    Belajar dari polemik di atas, semestinya kita tidak perlu mengedepankan dan mengandalkan sains utk menerangkan kebenaran fenomena-2 keimanan kita, apalagi kendali dunia sains kini tengah berada dlm genggaman kaum kufar ...

    Kita memang dituntut utk memahamkan faktor-2 keimanan secara aqliyah/ilmiah, namun tentunya kita ingat bahwasanya dunia ilmiah tidaklah terkungkung oleh rumus-rumus sains, pancaran dunia ilmiah sungguh jauh melesak melampaui batas-2 empirisitas yang menjadi pujaan sains, maka tak selayaknya jika keilmiahan hanya dipahami sbg perkara yang bisa dijelmakan dengan deretan kaku angka-angka ...

    BalasHapus
  27. anda kafir!!!

    bulan pasti terbelah!!!

    buktinya istri anda datang bulan, itu darahnya bulan!!!

    BalasHapus
  28. Lho, gimana sih bapak bapak peneliti lapan ini ,

    kalo begitu, menurut anda dan ilmu anda, kira kira laut merah dulu pernah terbelah gak. Atau mimpi di siang bolong ? Lalu kenapa bangsa Israel hingga saat ini masih ada ?

    BalasHapus
  29. bagaimana dengan lobate scraps yang di kaitkan dengan hal ini ? apakah memang berkaitan ?

    BalasHapus
  30. SAYA INI ORG AWAM, JADI BINGUNG, SAYA JADI BERPIKIR APAKAH SEMUA KEJADIAN YG DI CERITAKAN DI ATAS ITU BENAR, SAYA BINGUNG.

    BalasHapus
  31. Mujizat bukan rekayas kun fa yakun

    BalasHapus
  32. Saya muslim dan saya beriman bahwa bula terbalah dan akan terbalah lagi nanti di kemudian hari. Penjelasan ilmiah memungkinkan hal itu terjadi nantinya.

    Tapi permasalahannya adalah buat mereka yang mengimaninya (baik itu dari komentar anonim-anonim maupun yang terbuka dengan jujur identitasnya) tidaklah pantas menghujat saudara kita yang dengan disiplin keilmuannya membahas fenomena terbelahnya bulan.

    Dengan keimanan kita, bahwa bulan terbelah (sudah dan pernah serta akan terbelah lagi) adalah bukti bahwa kita adalah orang beriman, tapi bukan berarti ketika seorang ilmuwan menjelaskan fenomena alam yang menjadi keimanan kita harus kita salahkan. Toh terbukti bahwa dari kajian ilmiahnya, dia tidak menafikan ataupun menyangsikan mukjizat nabi yang pernah membelah bulan.

    Buat anonim (yang menurut saya tidak cukup fair membuka siapa jati diri Anda, seolah Anda ini tidak berani jujur dengan keimanan Anda), justru sebagai orang beriman, kita harus iktui dengan amal sholeh. Keimanan saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan amal sholeh. Kata-kata menghujat kepada sesama muslim aau kepada sesama orang berian, menunjukkan kita bahwa imannya tidak diikuti dengan amal sholeh.

    Padahal jelas-jelas di AlQur'an dijelaskan bahwa setiap kata-kata mereka yang beriman, selalu diikuti dengan kata-kata, "dan yang beramal sholeh" saja yang mendapat hidayah, atau petunjuk.

    Artinya keimanan kita akan menjadi sebuah hidayah dan pencerahan jika diikuti dengan amal sholeh. Kalau Anda menghujat para ilmuwan yang juga orang beriman dan saya yakin kemungkinan mereka juga muslim, mengapa harus kita hujat bahwa dia kafir? Padahal semua penjelasannya menunjukkan bahwa mereka tetap mengimani mukjizat Nabi Muhammad saw saat membelah bulan. Masalah pemahaman dia itu adalah kiasan atau fenomena kejadian alam yang terlihat seolah-olah di mata para saksinya, itu kan hanya sebatas pemahaman logika berdasarkan disiplin ilmu pengetahuan mereka. Jadi jangan disalahkan dan dihujat.

    Demikian pemahaman Anda bahwa Nabi Muhammad membelah bulan secara fisik dan bukan hanya sekadar "kiasan" dari fenomena alam yang terlihat bagaikan ilusi, saya kira Anda juga benar. Karena ilmu pengetahuan kita adalah relatif, tak ada yang mutlak benar. Benar sekali kalau Anda mengatakan, kelak nanti ilmu pengetahuan akan bisa membuktikan bahwa bulan pernah dan akan terbalah secara fisik. Tapi bukan berarti Anda juga berhak menghujat ilmuwan sekarang sebagai KAFIR atau tidak mempecayai mukjizat nabi. Salah besar Anda, karena itu sama saja dengan para pendeta-pendeta kristen romawi kuno yang taqlid buta yang percaya penuh dengan gereja tapi menafikan ilmu pengetahuan atau sains.

    Kita adalah muslim dan orang yang beriman, namun kita harus mengikuti keimanan kita dengan amal sholeh. Salah satu amal sholeh yang harus kita lakukan adalah belajar menahan diri dengan tidak menangkap segala sesuatu secara harfiah secara membabi buta. Amal sholeh yang dimaksud adalah juga mempertimbangkan antara iman di dalam hati dengan nalar logika di akal sehat kita serta perbuatan baik.

    [tulisan halaman 1 dari 2 halaman]

    BalasHapus
  33. [lanjutan halaman 2 dari 2 halaman]

    Lakukan perdebatan dengan baik, karena tulah yang dicontohkan oleh nabi, mendebat ilmu pengetahuan dengan baik namun selalu berlandaskan kebenaran AlQur'an yang hakiki berdasarkan tuntunan hadits-hadits yang jelas asal-usulnya.

    Kalau kita sebagai muslim mengatakan bahwa NASA adalah milik orang Israel atau Yahudi, ya sebaiknya kita merujuk dengan perkataan Nabi, agar kita tidak menyalahkan dan membenarkan segala informasi (hadits) Israiliyat. Pengertian hadits israiliyat adalah segala informasi dan kabar yang datangnya dari kau Yahudi (Bani Israel).

    Intinya adalah, jika kita ingin berargumen dengan cara Islami, ya sebaiknya kita harus menggunakan iman, akal sehat dan ucapan atau tindakan yang islami. JANGAN MENGHUJAT, tapi lakukan dengan kepala dingin. Apalagi yang kita ajak debat adalah sesama muslim dan sesama orang beriman.

    Jika ada dari anonim yang mengaku bahwa mereka Islam dan beriman dengan cara yang benar karena sangat mempercayai mukjizat Nabi Muhammad membelah bulan, ya mari kita buktikan kepada siapapun dengan kemampuan keilmuan kita untuk mengkaji (tak perlu harus bisa membuktikan secara ilmiah kok, karena ilmu pengetahuan yang kita punya sangat terbatas, mungkin di waktu nanti baru bisa. entah itu di anak kita atau di cucu kita), dan sebisanya janganlah suka menghujat para cendekiawan ataupun ilmuwan muslim yang sudah dan sedang mengkaji keilmuan dari fenomena alam sebagai orang yang KAFIR dan tidak percaya pada AlQur'an ataupun AlHadits saat mereka belum medapatkan kesimpulan yang sesuai engan keinginan kita. Karena, ilmu manusia sangat relatif kebenarannya. Ya kita semua ini relatif benar atau tidaknya, yang benar mutlak hanya Allah semata.

    Jadi mari kita saling menjaga tali kasih sayang di antara kita, untuk saling menjaga keimanan kita dan ilmu pengetahuan kita. INGAT musuh kita yang sebenarnya adalah SETAN, yang sebanarnya tidak suka dengan perdamaian, berkembangnya ilmu pengetahuan dan tentnunya kemajuan kita sebagai orang beriman yang sukses dengan akal sehat dan hati yang bersih.

    Mari kita bersihkan hati dan tambahkan wawasan ilmu pengetahuan kita menuju keridho'an Allah SWT semata, dengan begitu kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung di kemudian hari (ini bahasa saya untuk kemenangan di akhirat).

    Untuk Sdr.T.Djamaluddin dan Ma'rufin Sudibyo, cobalah menambah referensi disiplin ilmu pengetahuan eksakta Anda dengan kajian-kajian ilmiah tentang Al-Qur'an dan Al Hadits, sehingga ketika berargumen dengan orang-orang Islam seperti ANONIM, tidak menimbulkan kesalahpahaman karena keawaman mereka dengan disiplin ilmu Anda. Sama seperti halnya Nabi Muhammad saw dan para sahabat serta para ulama zaman dahulu, mereka menjelaskan ilmu pengetahuan dengan bahasa yang SEDERHANA dan mudah dimengerti. Jangan pernah menyerah untuk menjelaskan kajian ilmiah yang memang sangat obyektif. Dan jauh akan lebih baik jika Anda mereferensikan juga ayat-ayat Alqur'an dan AlHadits dengan tujuan untuk menyeimbangkan ilmu dunia dengan ilmu dari langit. Pasti satu saat Anda berdua bisa melakukannya, karena sudah banyak ulama dan ilmuwan muslim yang melakukannya dengan penjelasan ilmiah yang mencerahkan kaum muslim dari berbagai kalangan, baik yang paling awam (kalau gak mau dibilang bodoh) hingga kaum muslimin yang paling pandai. Lakukan semua itu demi kebenaran dan tentunya Kebenaran Hakiki dari AlQur'an dan AlHadits yang datangnya hanya dari Allah SWT semata.

    Wassalam

    Sidik Rizal

    BalasHapus
  34. Apakah foto bulan itu asli atau palsu kita tidak tau, pa lagi yang buwat foto itu NASA..
    Ingat kan teman - teman tentang foto cahaya yang dari ka'bah ke langit?? itu yang nemukan seorang astronomi, tapi apa yang NASA lakukan?? mereka langsung menghapus foto itu dan tidak memberi pernyataan tentang peristiwa itu..
    padalan mereka tau sebenarnya cahaya itu benar...

    Jadi jangan terlalu percaya pada NASA..

    BalasHapus
  35. Saya yakin seiring berjalannya waktu dan pengetahuan kita bertambah pesat dengan semakin seringnya kita belajar, maka kita akan paham apa yang sebenarnya terjadi.

    BalasHapus
  36. Setuju dengan paragraf ini...

    "Saya mempercayai adaya mukjizat Rasulullah yang menunjukkan bahwa bulan terbelah yang dikaitkan dengan asbabun nuzul QS 54:1-2. Tetapi itu tidak harus berarti secara fisik bulan terbelah. Bisa jadi, itu hanya fenomena di atmosfer bumi yang menyebabkan bulan tampak terbelah. Mukjizat memang tidak harus difahami dengan ilmu pengetahuan atau harus dicocokkan dengan logika ilmu pengetahuan. Mukjizat hanya cara menunjukkan kekuasaan Allah yang diberikan kepada Rasul-Nya. Kita harus menyakini adanya, tetapi tidak harus menalar bagaimana hal itu bisa terjadi."

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm coba di analisis kata bisa jadi dan seterusnya itu, jadi teringat kata Alloh "Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat TANDA-TANDA kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus- menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka"

      jadi: selalu ada celah untuk menginkarinya... hmmm

      Hapus
  37. percayalah pada Al-Quran dan Hadis jika kau adalah benar2 orang yang beriman, Allahu akbar.

    BalasHapus
  38. Tidak ada yang tidak mungkin,..alam semesta dan isinya ada didepan mata..apalagi hanya bulan yang terbelah menjadi dua.sangat mudah bagiNya.

    BalasHapus
  39. Terima Kasih Infonya, Saya baru mendengar hal itu sekarang

    BalasHapus
  40. jika benar bulan pernah terbelah, maka tidak perlu ada bukti fisik berupa kanal atau guratan segala. bulan dibelah oleh rosul dengan jari tangan, kemudian kembali utuh seperti semula,,,,,,selesai..

    kaum yang mencari cari bukti fisik dan menunjuk nunjukkannya ke publik, justru menunjukkan kedangkalan nalar dan iman mereka'

    1. BULAN yang pernah terbelah tidak butuh bukti fisik, bulan utuh kembali
    2. sebagai MANUSIA, saya menggunakan nalar yang diberikan dan tidak mau menjadi KATAK dalam kitab suci

    BalasHapus
  41. sunatullah itu "teori" nya, "anti-teori"nya itu sihir (dari setan) dan mukjizat/karomah (dari Allah) jadi silakan simpulkan sendiri....

    BalasHapus
  42. Kaya prnh kbulan aja. Pling cma neliti foto jd berjibun kata dan kalimat. Allahuakbar.....

    BalasHapus
  43. melihat postingan ini jadi ingat perkataan Alloh "Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus- menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka"

    Artinya selalu ada celah bagi Musyrikin untuk menyangkal keEsaan Alloh. ckckck

    BalasHapus
  44. baca http://kompasnia.blogspot.com

    BalasHapus